Pasukan IDF melarikan diri dari serangan drione Hizbullah di Lebanon selatan pada April 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Pendudukan Israel meningkatkan operasi udara mereka di sejumlah wilayah di Lebanon selatan dengan menargetkan pusat-pusat ambulans dan pertahanan sipil.
Serangan-serangan itu oleh para analis disebut menyasar “target-target mudah”, di tengah tersendatnya upaya Israel melakukan penetrasi darat di tiga poros utama, yang dihadapi dengan ketahanan lapangan cukup kuat dari para pejuang Hizbullah.
Pakar militer dan strategi Brigjen Hassan Jouni menegaskan bahwa aturan pertempuran yang dibangun Hizbullah dalam sepuluh hari terakhir — melalui penggunaan drone, serangan presisi, dan manuver lapangan — telah secara nyata membatasi efektivitas serangan Israel.
Dalam sesi analisis militer, Jouni menjelaskan bahwa tentara Israel berupaya memperkuat apa yang disebut sebagai “garis kuning”, yang menargetkan sekitar 55 kota dan desa untuk ditempatkan di bawah kehadiran militer Israel dalam sebuah sabuk keamanan sedalam 4 hingga 10 kilometer di sepanjang perbatasan.
Jalur tersebut membentang dari Naqoura melewati wilayah seperti Al-Shamiyah, Al-Shaab, Bint Jbeil, hingga Al-Adaisseh.
Menurut Jouni, Israel ingin menjadikan garis itu sebagai garis pertahanan depan bagi wilayah perbatasannya. Namun hingga kini, mereka dinilai belum mampu menguasai kawasan tersebut secara penuh.
Ia menambahkan bahwa pertempuran kini berlangsung secara bersamaan di tiga poros utama yaitu antara Deir Siryan dan Zoutr El Sharqiyeh, antara Aita dan Hadatha, yang dalam dua hari terakhir mengalami intensitas pertempuran tinggi, di sekitar kawasan Buyut Al-Sayyid.
Jurnalis Mohammad Rammal, melalui peta interaktif, menjelaskan bahwa serangan udara terbaru menyasar pusat-pusat ambulans di Distrik Tyre.
sumber : Antara

2 hours ago
4
















































