Panggung Politik Kantor dan Seni Mengelola Topeng di Era Digital

8 hours ago 11

Image lidya danayanti

Politik | 2026-06-22 14:02:08

Ilustrasi "Panggung Politik Kantor dan Seni Mengelola Topeng di Era Digital" - Gemini AI

Dina, Lidya, Razka, Umu – Universitas Pamulang,

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana sebuah kebijakan di tempat kerja tiba-tiba berubah arah setelah adanya rotasi jabatan? Atau bagaimana seorang rekan kerja yang "biasa saja" secara teknis, mendadak mendapatkan promosi kilat hanya karena selalu berada di lingkar terdekat sang bos?

Bagi mereka yang memandang dunia kerja secara linear, kompetensi performa kerja adalah segalanya. Namun, ilmu Perilaku Organisasi lewat materi akademiknya yang krusial mengingatkan kita pada satu realitas yang tak terhindarkan: organisasi bukanlah sekadar mesin produksi yang steril, melainkan sebuah ekosistem politik yang dinamis.

Di dalam Pertemuan Ke-14 silabus manajemen, terdapat pembahasan mendalam mengenai Kekuasaan dan Politik Organisasi. Bab ini mengupas bagaimana sumber kekuasaan digunakan, bagaimana taktik politik dijalankan, hingga bagaimana sebuah teknik yang disebut Management Kesan (Impression Management) membentuk realitas karier seseorang.

Jika kita kontekstualisasikan ke dalam dinamika publik hari ini, terutama di tengah hiruk-pikuk transisi kepemimpinan, restrukturisasi lembaga negara, hingga fenomena personal branding yang agresif di media sosial seperti LinkedIn dan X (Twitter), materi ini terasa sangat hidup dan relevan.

Menakar Sumber Kekuasaan: Bukan Cuma Soal Jabatan

Banyak orang terjebak mengira bahwa kekuasaan hanya lahir dari SK (Surat Keputusan) atau jabatan formal (legitimate power). Padahal, perilaku organisasi memetakan berbagai sumber kekuasaan lain yang jauh lebih cair. Ada expert power (kekuasaan berbasis keahlian) dan referent power (kekuasaan berbasis karisma atau jejaring yang disukai).

Di era sekarang, kita menyaksikan pergeseran besar. Orang-orang yang memiliki expert power dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) atau analisis data makro, tiba-tiba memegang kendali strategis di perusahaan, menggeser para manajer konvensional. Politik organisasi terjadi ketika sumber daya yang terbatas, seperti anggaran, pengaruh, atau perhatian pimpinan, mulai diperebutkan menggunakan taktik tertentu.

Faktor pendorong perilaku politik ini bisa bersifat individual (seperti kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi) maupun organisasional (seperti budaya perusahaan yang kompetitif atau ketidakpastian peran). Ketika atmosfer politik ini tidak dikelola secara sehat, profesionalisme akan tergantikan oleh feodalisme modern.

Impression Management dan jebakan "Topeng" Digital

Salah satu bahasan paling menarik dalam materi ke-14 Perilaku Organisasi adalah Manajemen Kesan (Impression Management). Ini adalah proses di mana individu mencoba mengendalikan kesan atau persepsi orang lain terhadap diri mereka. Taktik yang biasa digunakan meliputi conformity (menyetujui pendapat atasan demi mendapat tempat), favors (membantu demi pamrih), hingga self-promotion (menonjolkan kesuksesan diri secara intensif).

Di era digital, manajemen kesan ini mengalami amplifikasi yang luar biasa. Media sosial profesional telah berubah menjadi "panggung sandiwara" korporat. Kita sering melihat narasi-narasi over-proud tentang pencapaian kerja yang dikemas begitu estetis, padahal realitas kontribusinya di lapangan mungkin biasa saja.

Secara sosiologis dan organisasional, manajemen kesan memang taktik politik yang sah untuk membangun reputasi. Namun, ketika manajemen kesan dilakukan secara berlebihan tanpa ditopang oleh kapabilitas riil, ia akan melahirkan budaya "asal bapak senang" (ABS) versi modern. Dampaknya fatal bagi kesehatan mental karyawan lain dan bisa merusak objektifitas penilaian kinerja perusahaan.

Refleksi Jangka Panjang : Politik yang Membangun, Bukan Menjatuhkan

Sebagai refleksi, politik dan kekuasaan dalam organisasi sebenarnya bersifat netral. Ia menjadi destruktif ketika digunakan egois demi kepentingan faksional, dan menjadi konstruktif ketika dipakai sebagai alat untuk mendorong perubahan positif, menyatukan visi, serta mengeksekusi strategi yang membawa kesejahteraan bersama.

Bagi para mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat umum yang sedang mengamati dinamika politik di tingkat korporasi maupun makro-negara saat ini, memahami Perilaku Organisasi mengajarkan kita untuk bersikap realistis namun tetap etis. Kita tidak boleh naif dan menutup mata dari realitas politik kantor. Namun di sisi lain, kita juga tidak boleh kehilangan integritas demi mengejar kekuasaan sesaat menggunakan taktik-taktik manipulatif.

Pada akhirnya, di atas panggung politik apa pun kita berdiri, kompetensi yang sejati dan rekam jejak yang jujur adalah mata uang yang akan tetap berharga ketika semua topeng manajemen kesan itu terpaksa dibuka.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |