Pekan Depan, Harga Emas Diprediksi Berada di Kisaran Rp 2,55-Rp 2,82 Juta per Gram 

4 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Harga emas dan atau logam mulia diprediksi masih bergerak melandai dan cenderung naik pada sepekan ke depan. Diproyeksi pergerakan harga emas akan berada di kisaran Rp 2,55-Rp 2,82 juta per gram. 

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi, secara teknikal, harga emas dunia pada minggu depan berada di sekitar 4.151 dolar AS per troy ons sebagai level support-nya hingga 4.493 dolar AS per troy ons sebagai level resisten-nya. 

Adapun pada hari Senin (10/8/2026), kemungkinan besar level support-nya di 4.279 dolar AS per troy ons, dan level resisten-nya adalah 4.405 dolar AS per troy ons.  

“Untuk harga logam mulia Sabtu ditutup pada level Rp 2,69 juta per gram. Dalam sepekan (ke depan) kemungkinan besar logam mulia akan ditransaksikan di Rp 2,55 juta per gram, kemudian resisten-nya di Rp 2,82 juta per gram,” kata Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan, Ahad (9/8/2026). 

Sedangkan pada hari Senin (10/8/2026), kemungkinan besar level support harga logam mulia ditransaksikan di level Rp 2,67 juta per gram, dan level resisten-nya yakni di Rp 2,71 juta per gram. 

“Jadi ada kemungkinan harga emas dan logam mulia akan menguat. Walaupun rupiah juga menguat tetapi penguatan mata uang rupiah membuat kenaikan harga logam mulia sedikit terbatas,” tuturnya.

Pada saat yang sama, Ibrahim menyebut harga minyak mentah dunia diproyeksikan dalam sepekan ke depan akan bergerak cenderung menurun. Yakni berada di kisaran 65,70 dolar AS per barel sebagai level support-nya hingga 83,30 dolar AS per barel. Kemudian, untuk posisi indeks dolar AS, ia memprediksi bergerak di sekitar 98,80—100,50. 

“Apa sih yang membuat harga emas dunia dan logam mulia mengalami kenaikan? Yang pertama adalah tentang masalah geopolitik dimana adanya kesepakatan Iran dan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz yang kemungkinan besar akan segera tercapai satu kesepakatan. Dan ini pun juga sudah dilaporkan ke AS,” ujar dia. 

Ibrahim menyebut, seiring dengan belum adanya kesepakatan tersebut, Iran melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Uni Emirate Arab di wilayah Selat Hormuz. Penyerangan yang dilakukan Iran di saat kapal-kapal tanker Uni Emirate Arab melakukan penyebrangan melalui Selat Hormuz.

“Serangan dari Iran ini rupanya tidak membuat harga minyak kembali mengalami kenaikan, tetapi AS sendiri fokus terhadap perjanjian yang ada diantara Iran dan Oman untuk pengendalian Selat Hormuz. 

Ibrahim menuturkan, keinginan Iran sejatinya adalah AS tidak merecoki negara tersebut dengan melakukan penyerangan ke titik-titik vital di Iran. AS sendiri terus menggodok tentang anggaran perang di Kongres, yang pada pekan depan masih akan dibahas. Presiden AS Donald Trump diketahui menyampaikan pernyataan bahwa apabila AS menyerang Iran dengan menggunakan pesawat alias melalui udara, tidak mungkin aka nada satu kesepakatan perang di Timur Tengah. Oleh karena itu, AS kemungkinan akan melakukan serangan darat untuk menentukan siapa pemenang dalam perang tersebut.

“Ini membuat ketegangan tersendiri walaupun sampai saat ini belum ada letupan-letupannya. Jadi, faktor geopolitik di Timur Tengah masih cukup dominan,” kata dia. 

Selain perang di Timur Tengah, peperangan di Eropa Timur juga masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan komoditas dunia. Hingga saat ini, Rusia masih terus melakukan penyerangan dengan menggunakan misil-misil jarak jauh terhadap Ibu Kota Ukraina di Kyiv, sehingga membulkan korban jiwa. 

“Sasaran utama dari Rusia sekarang bukan lagi wilayah-wilayah pinggiran tetapi adalah Ibu Kota Kyiv agar Zelenskyy (Presiden Ukraina) menyerah tanpa syarat terhadap Rusia, dan memberikan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Rusia untuk diakui oleh Ukraina. Nah ini pun juga membuat ketegangan tersendiri terhadap harga minyak mentah. Itu dari segi geopolitik ya,” terangnya. 

Kemudian, faktor lainnya adalah soal kebijakan suku bunga Bank Sentral AS. Ibrahim mengatakan, update data ekonomi AS cenderung cukup bagus, yang mana data tenaga kerja AS mengalami penurunan 23 ribu pada Juli 2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebanyak 85 ribu. 

Data tersebut mengindikasikan Bank Sentral AS pada pertemuan mendatang akan tetap mempertahankan kenaikan suku bunga. Sesuai dengan ekspektasi para analis bahwa kenaikan suku bunga mengalami penurunan 40 persen pada September, Ibrahim menyebbut, bisa saja nanti harga minyak terus turun di bawah 60 dolar AS per barel, dan juga akan membuat inflasi di AS akan kembali mengalami penurunan. 

“Ada harapan bahwa terjadinya penurunan harga minyak akan membuat investor secara global yang akan mengalihkan dananya dari dolar dan atau dari minyak mentah ke emas sebagai safe haven,” ujar dia. 

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |