REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai meninggalkan posisi Rp 17.400-an per dolar AS pada akhir pekan ini. Diprediksi, pada pekan depan Mata Uang Garuda bergerak di kisaran Rp 17.380—Rp 17.430 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 49 poin atau 0,28 persen ke level Rp 17.382 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (7/5/2026). Rupiah sempat menembus level Rp 17.400-an per dolar AS pada perdagangan pekan ini.
“Untuk perdagangan Senin besok (11/5/2026), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.380—Rp 17.430,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, dikutip Ahad (10/5/2026).
Ibrahim menerangkan terdapat sejumlah sentimen yang memengaruhi fluktuasi rupiah, baik dari eksternal maupun internal. Dari eksternal, sentimen utama berasal dari dinamika perang di Timur Tengah dan kondisi geoekonomi global.
“AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri pertempuran dan memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya, tetapi menunda masalah yang lebih besar terkait program nuklir Iran. Namun, pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran, mengancam gencatan senjata yang rapuh dan menghancurkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur transit utama minyak dan gas,” terangnya.
Iran mengklaim AS melanggar gencatan senjata selama sebulan di antara kedua negara, sementara AS menyebut serangan dilakukan sebagai balasan atas tembakan Iran pada Kamis terhadap kapal angkatan lautnya yang melintas di selat tersebut. Militer Iran mengatakan AS telah menargetkan kapal tanker minyak Iran, kapal lain, serta wilayah sipil di selat dan daratan.
“Terlepas dari pertempuran yang kembali terjadi, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa gencatan senjata masih berlaku,” ujarnya.
Diketahui, baku tembak terjadi ketika Washington menunggu tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian terbaru yang belum membahas sejumlah isu kontroversial, termasuk tuntutan AS untuk membuka kembali selat tersebut yang menjadi jalur seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Perang Iran versus AS-Israel diketahui telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Sentimen lainnya berasal dari ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, The Federal Reserve. Para pejabat The Fed memberikan pandangan berbeda. Beth Hammack dari Fed Cleveland menyatakan suku bunga “akan tetap stabil untuk beberapa waktu”. Mary Daly dari Fed San Francisco mengambil sikap netral hingga agresif dengan menegaskan komitmennya mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Sementara itu, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari menilai inflasi masih terlalu tinggi.

3 hours ago
1
















































