Peluang Kerja Akuntansi di Era AI Masih Besar, Ini Alasannya

5 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memunculkan berbagai pertanyaan tentang masa depan sejumlah profesi, termasuk akuntansi. Banyak orang mulai bertanya-tanya apakah peran akuntan masih akan dibutuhkan ketika berbagai aplikasi sudah mampu mencatat transaksi, menyusun laporan keuangan, hingga melakukan analisis data secara otomatis.

Meski demikian, kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang akuntansi justru masih menunjukkan tren yang positif. Di tengah transformasi digital yang berlangsung di berbagai sektor industri, perusahaan tetap membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami data keuangan dan menerjemahkannya menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis.

Hal ini terlihat dari semakin berkembangnya bisnis digital dan e-commerce yang menghasilkan volume transaksi dalam jumlah besar setiap hari. Data keuangan yang kompleks tersebut memerlukan pengawasan, analisis, serta interpretasi yang tidak dapat sepenuhnya dilakukan oleh teknologi.

Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Bogor, Sugiono mengatakan teknologi AI memang membantu pekerjaan akuntansi menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia dalam menganalisis kondisi bisnis dan memberikan pertimbangan strategis.

“AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat, tetapi keputusan bisnis tetap membutuhkan pemahaman konteks, analisis risiko, dan pertimbangan profesional. Karena itu, profesi akuntan masih sangat dibutuhkan dan justru berkembang mengikuti perubahan teknologi,” ujar Sugiono, dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, peran akuntan saat ini tidak lagi terbatas pada pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan. Dunia kerja membutuhkan tenaga profesional yang mampu memanfaatkan teknologi sekaligus memahami kondisi bisnis secara menyeluruh.

Contoh nyatanya dapat dilihat dari perusahaan yang menjalankan bisnis melalui berbagai platform digital, mulai dari marketplace, media sosial, hingga situs web. Aktivitas tersebut menghasilkan data transaksi yang besar dan beragam sehingga memerlukan pengelolaan yang akurat agar perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat.

Selain itu, kondisi ekonomi yang dinamis, seperti perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, juga menuntut perusahaan untuk melakukan analisis keuangan secara cepat dan tepat. Dalam situasi seperti itu, kemampuan akuntan dalam membaca data dan memberikan rekomendasi strategis menjadi sangat penting.

Ia menyebut, perubahan kebutuhan industri tersebut mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulum pembelajaran. Lulusan akuntansi masa kini tidak hanya dituntut memahami prinsip-prinsip akuntansi, tetapi juga harus menguasai teknologi digital, sistem informasi, dan analisis data.

Sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI kampus Bogor yang berlokasi di Jl. Merdeka No.168, RT.01/RW.05, Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, menghadirkan Program Studi Unggulan S1 Plus Akuntansi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut. Mahasiswa tidak hanya mempelajari dasar-dasar akuntansi dan pelaporan keuangan, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai sistem informasi akuntansi, pengolahan data bisnis, dan pemanfaatan teknologi digital dalam dunia kerja.

Sugiono menjelaskan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan kompetensi akuntansi dan teknologi menjadi salah satu kunci agar lulusan mampu bersaing di era transformasi digital.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi ahli dalam bidang akuntansi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas analisis dan pengambilan keputusan. Kombinasi kompetensi inilah yang saat ini paling dicari oleh dunia industri,” katanya.

Program S1 Plus Akuntansi UBSI kampus Bogor menawarkan skema dua ijazah, yaitu S1 dan D3, yang memberikan nilai tambah bagi lulusan saat memasuki dunia kerja. Kurikulum yang disusun mengikuti kebutuhan industri memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan bisnis modern.

Selain pembelajaran di kelas, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, turut mendukung kesiapan karier mahasiswa melalui BSI Career Center (BCC). Fasilitas ini membantu mahasiswa mendapatkan informasi magang, peluang kerja, hingga pengembangan karier profesional. Sementara itu, BSI Entrepreneur Center (BEC) menjadi wadah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan kewirausahaan dan membangun usaha sendiri.

Dengan kombinasi kompetensi akuntansi, penguasaan teknologi, dan dukungan pengembangan karier yang komprehensif, lulusan Prodi Akuntansi UBSI kampus Bogor diharapkan mampu berkarier di berbagai bidang, mulai dari accounting analyst, auditor, konsultan keuangan, supervisor manajemen informasi, hingga pengembang sistem informasi akuntansi.

“Era AI bukan ancaman bagi mahasiswa akuntansi yang terus mengembangkan diri. Justru ini menjadi peluang besar untuk menciptakan profesional yang lebih adaptif, memiliki kemampuan analitis yang kuat, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin digital,” kata Sugiono.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |