Perbankan Waspadai Tekanan Rupiah dan Gejolak Global

6 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik mulai menjadi perhatian industri perbankan. Di tengah ketidakpastian global, bank-bank besar memilih memperkuat fundamental bisnis sambil menjaga optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan gejolak global saat ini tidak hanya dipicu perang dagang, tetapi juga konflik Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap harga energi, pasar keuangan, hingga arus modal dunia.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Tema besarnya sebenarnya bukan rupiah menjadi satu-satunya mata uang yang lemah terhadap dolar AS, tetapi memang kondisi global yang sedang mengalami tekanan,” ujar Josua dalam paparan ekonomi Permata Institute for Economic Research, Selasa (12/5/2026).

Hingga awal Mei 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 3,9 persen secara year to date. Sementara aliran modal asing keluar dari pasar saham domestik juga masih terjadi akibat tingginya ketidakpastian global dan kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar domestik.

Permata Bank menilai tekanan tersebut perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi inflasi, biaya impor energi, hingga ruang fiskal pemerintah. Konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat apabila berlangsung berkepanjangan.

Meski demikian, Josua menilai ekonomi domestik Indonesia masih memiliki daya tahan karena ditopang konsumsi masyarakat dan permintaan domestik yang relatif kuat.

“Yang diharapkan pelaku usaha sebenarnya bukan rupiah pada level tertentu, melainkan stabilitas nilai tukar,” kata Josua.

Pandangan serupa disampaikan Bank Central Asia atau BCA. Corporate Communication and Social Responsibility EVP BCA Hera F Haryn mengatakan volatilitas pasar saat ini masih dipengaruhi dinamika global dan sentimen investor.

Karena itu, industri jasa keuangan dinilai perlu terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan regulator agar stabilitas pasar tetap terjaga.

“Pada prinsipnya, fluktuasi harga saham di pasar modal dipengaruhi berbagai faktor, termasuk dinamika global, kondisi geopolitik, dan sentimen pasar,” ujar Hera kepada Republika.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |