Jokowi Injak Kepala Kerbau Dinilai Aksi Simbolik, Begini Tanggapan PDIP

10 hours ago 7

Mantan presiden RI, Joko Widodo atau Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Mohammad Guntur Romli menyampaikan komentar terkait aksi presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dalam kunjungan di Lampung pada Sabtu (27/6/2026) lalu.

Sorotan tertuju pada momen sosok yang akrab disapa Jokowi itu tatkala menginjak potongan kepala kerbau saat menerima gelar kehormatan khas adat Lampung.

Menurut Guntur Romli, adegan itu sarat akan nilai simboli dan makna politis. Ia lantas mengaitkannya dengan pernyataan sebelumnya dari koleganya mengenai penilaian atas sosok Jokowi pasca-tidak lagi menjabat presiden RI.

“Apa yang dilakukan Jokowi dalam foto yang beredar (sedang menginjak kepala kerbau --Red) semakin membuktikan kebenaran disertasi Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bahwa Jokowi membangun identitas kepemimpinannya sebagai perpaduan ‘the triangle of authoritarian populism’ yang memadukan feodalisme dengan mempersepsikan dirinya sebagai seorang raja; populisme dengan membagi-bagi amplop dan sembako untuk menarik rakyat; dan karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya,” kata Guntur menjelaskan, dikutip dari keterangan tertulis pada Ahad (28/6/2026).

Ia menyoroti dugaan adanya kecenderungan konsolidasi kekuasaan di lingkaran keluarga Jokowi. Guntur juga menyinggung posisi Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Naiknya Gibran ke kursi wapres RI menuai sorotan luas. Sebab, hal itu didahului oleh proses putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dinilai kontroversial bagi berbagai kalangan.

“Tidak heran meskipun sudah menjadi presiden 2 periode dan menjadikan anaknya Gibran sebagai Wapres melalui manipulasi MK; dan menantunya Bobby sebagai Gubernur Sumut serta Kaesang sebagai Ketua Umum PSI,” katanya.

Menurut Guntur, momen Jokowi menginjak kepala kerbau juga sarat akan simbol. Kepala kerbau yang diinjak Jokowi, lanjutnya, merepresentasikan kritik terhadap pendukung Jokowi dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dianggap Guntur "terlena" oleh figur kepemimpinan, padahal yang dinilai muncul adalah dorongan memperluas pengaruh politik keluarga.

“Kepala kerbau yang diinjak melambangkan para pengikut Jokowi dan PSI yang terbuai di balik perilaku raja, padahal yang ada adalah ambisi kekuasaan tanpa batas untuk keluarga Jokowi,” katanya mengakhiri.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |