Lebanon Berbeda, Pelajaran yang Selalu Gagal Dipahami Israel Selama 100 Tahun

2 hours ago 2

Tentara Israel membawa peti mati Sersan Ohad Yaari saat upacara pemakamannya di Rehovot, Israel, 7 Juni 2026. Militer Israel mengumumkan pada 6 Juni, bahwa dua tentara tewas dalam insiden terpisah di Lebanon selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang paling banyak memicu perdebatan di Lebanon.

Di sebuah negeri yang masyarakatnya terdiri atas beragam kelompok agama dan memiliki berbagai versi sejarah, upaya menyusun satu narasi nasional yang mampu merangkul seluruh komponennya berulang kali menemui kegagalan, terutama ketika membahas periode-periode paling sensitif dalam sejarah Lebanon.

Meski demikian, tetap ada sejumlah tonggak sejarah penting yang memperoleh kesepakatan relatif di kalangan mayoritas masyarakat Lebanon.

Pakta Nasional 1943 merupakan salah satu tonggak penting tersebut. Hampir tidak ada pelajar Lebanon yang meninggalkan bangku sekolah tanpa mengenal kisah tentang pakta ini. Inilah momentum yang secara praktis menandai lahirnya Lebanon modern.

Dalam laporannya, Aljazeera pada Kamis (13/8/2026) melaporkan saat itu, Perdana Menteri Riyadh al-Sulh, sebagai representasi tertinggi umat Islam dalam negara, menyatakan pengakuan finalnya terhadap entitas Lebanon yang merdeka.

Sebagai imbalannya, Presiden Bishara al-Khouri, yang mewakili puncak kepemimpinan politik Kristen, mengakui identitas Arab Lebanon dan meninggalkan pilihan untuk meminta perlindungan asing.

Melalui kompromi tersebut, diletakkan fondasi yang selama puluhan tahun menjadi titik temu yang selalu dirujuk masyarakat Lebanon setiap kali mereka berusaha keluar dari konflik menuju cakrawala hidup bersama.

Namun, itu hanyalah wajah Pakta Nasional yang paling dikenal. Ada sisi lain yang jauh lebih jarang hadir dalam ingatan kolektif masyarakat Lebanon. Pakta tersebut sekaligus menutup sebuah taruhan Zionis yang telah berlangsung selama beberapa dekade, yakni kemungkinan memisahkan Lebanon—atau sebagian komponennya—dari lingkungan Arabnya dan menjadikannya sekutu alami bagi proyek Zionis yang ketika itu sedang dibangun di Palestina. Dengan demikian, Lebanon diharapkan menjadi terobosan strategis yang membuka jalan bagi penetrasi yang lebih luas ke kawasan.

Ambisi terhadap Lebanon Selatan

Persentuhan antara Lebanon dan proyek Zionis bermula bersamaan dengan munculnya proyek tersebut di Palestina.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |