Kemarau Picu Lonjakan Kasus Kebakaran di KBB, Sehari Bisa Tujuh Kejadian

1 hour ago 1

Api membakar hutan di Gunung Jati, Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (27/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Tren kasus kebakaran di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat melonjak dratis di musim kemarau yang diperparah dengan fenomena El Nino tahun ini. Embusan angin kencang dan kondisi lingkungan yang kering memicu api lebih mudah menjalar.

Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan KBB, jumlah kasus kebakaran yang tercatat hingga mencapai 143 titik. Rinciannya, Januari ada 9 kejadian, Februari ada 7 kejadian, Maret ada 17 kejadian, April ada 8 kejadian, Mei ada 9 kejadian, Juni ada 20 kejadian dan Juli ada 73 kejadian. 

"Peristiwa kebakaran di musim kemarau ini memang naik drastis. Kejadian paling tinggi jumlahnya itu di bulan Juli ada 73 kasus kebakaran. Bahkan pernah sehari ada 7 kejadian," kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan KBB, Siti Aminah Anshoriah saat dikonfirmasi, Rabu (12/8/2026). 

Menurutnya, mayoritas peristiwa kebakaran di musim kemarau tahun ini terjadi di kebun dan lahan kosong. Suhu udara yang sangat tinggi membuat rumput, alang-alang, ranting, dan daun mengering. Kondisi itu dipengaruhi musim kemarau karena kombinasi cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino.

"Paling banyak memang di lahan kosong sama kebun. Alang-alangnya kan kering jadi mudah kebakar, ditambah angin kencang jadi lebih cepat menyebar. Ada juga rumah dan lainnya," ungkap Siti.

Dirinya memaparkan, kebakaran tersebut mayoritas dipicu ulah manusia, seperti meninggalkan sisa pembakaran yang belum padam hingga membuang puntung rokok sembarangan. Kondisi ini diperparah embusan angin kencang yang memudahkan api berkobar cepat.

"Paling dominan memang faktor kelalaian. Jadi contohnya puntung rokok aja kalau dibuang sembarangan itu bisa jadi pemicu kalau cuaca panas seperti sekarang," ujarnya. 

Sehingga pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran seiring masuknya musim kemarau. Bukan hanya karhutla, kondisi cuaca yang kering dan angin kencang memicu kerawanan tinggi di permukiman, hingga tempat pembuangan sampah.

"Jadi masyarakat harus lebih hati-hati di musim kemarau ini karena api enggak pilih-pilih tempat. Kelalaian sedikit saja bisa menyebabkan kebakaran," kata Siti. (N-Ferry Bangkit Rizki).

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |