REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR, – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta jajaran manajemen dan tenaga kesehatan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar untuk segera mengubah pola pikir. Perubahan ini dinilai krusial untuk menyukseskan reformasi pelayanan kesehatan serta mendorong digitalisasi rumah sakit secara menyeluruh.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, menekankan bahwa reformasi sistem kesehatan pasti akan menimbulkan dampak. Oleh karena itu, perubahan pola pikir diperlukan agar seluruh pihak siap mencari solusi, terutama dari sisi pelayanan.
"Secara garis besar sebenarnya lebih kepada bagaimana kita harus mengubah pola pikir, mindset perubahan, karena reformasi itu pasti akan ada dampaknya, dan dampak itu harus disiapkan solusi untuk mencegahnya, kebanyakan dari pelayanannya," kata Kunta Wibawa di Denpasar, Rabu.
Pernyataan tersebut disampaikan saat tim Kemenkes melakukan kunjungan lapangan terkait Implementasi Rujukan Berbasis Kompetensi Pelayanan (RBKP) dan Indonesia Diagnosis Related Groups di rumah sakit vertikal tersebut.
Pentingnya Integrasi Sistem Digital
Menurut Kunta, selain penguatan sistem teknologi informasi secara menyeluruh pada rumah sakit yang menerapkan RBKP, pembenahan aspek pelayanan dan kesiapan tenaga kesehatan juga sangat penting. Ia menyoroti kemampuan tenaga medis dalam melakukan coding dan pencatatan rekam medis pasien yang lebih baik.
"Pertama dari tenaga kesehatan, tenaga medis, untuk melakukan coding dan juga record dari pasien itu dengan lebih baik," ujarnya.
Setelah pola pikir tenaga kesehatan dan manajemen selaras, rumah sakit perlu mengintegrasikan seluruh lini pelayanan dalam satu sistem teknologi informasi yang menyeluruh. Sistem ini harus mencakup seluruh proses, mulai dari pasien masuk, pemeriksaan di laboratorium dan radiologi, pemberian obat, hingga pasien pulang dan pemantauan proses pemulihan.
"Itu semua terlibat di dalam satu aplikasi dan sistem, sampai nanti dia dapat obat, pulang dan dimonitor sampai dia sembuh," katanya. Ia menambahkan bahwa tiga fungsi rumah sakit, yakni pelayanan, pendidikan, dan penelitian, juga perlu didukung oleh sistem informasi yang terintegrasi.
Transformasi Demi Keadilan Mutu Layanan
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Kebijakan Umum Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Mickael Bobby Hoelman, menegaskan bahwa kesiapan sistem digital rumah sakit merupakan faktor penting dalam transformasi pelayanan kesehatan. Memasuki dekade kedua Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), transformasi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan dinilai mendesak untuk memastikan mutu yang berkeadilan.
"Transformasi pelayanan lanjutan menjadi penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang semakin bermutu, adil, dan berkeadilan, terutama juga khususnya dari perspektif DJSN bagi para pesertanya," kata Mickael.
Ia memaparkan data bahwa setiap hari terdapat 1,9 juta pelayanan kesehatan bagi peserta JKN. Dari jumlah tersebut, sekitar 442.000 pelayanan atau 23 persen merupakan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang diberikan oleh lebih dari 3.200 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di seluruh Indonesia. Dari sisi anggaran, klaim pelayanan tingkat lanjutan mendominasi pengeluaran harian BPJS Kesehatan dengan nilai fantastis, yakni sekitar Rp455 miliar per hari.
Kesiapan RSUP Prof. Ngoerah
Direktur Utama RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, I Gusti Ngurah Ketut Sukadarma, memastikan pihaknya siap mendukung implementasi RBKP dan transformasi pelayanan kesehatan. Rumah sakit yang sebelumnya dikenal sebagai Rumah Sakit Sanglah ini telah menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung.
"Sejauh mana kesiapan Rumah Sakit Prof Ngoerah terkait dengan pelaksanaan RBKP, jadi rujukan berbasis kompetensi pelayanan termasuk E-Triase dan standar KRIS, kalau standar KRIS kami sudah jauh-jauh hari sebenarnya sudah mempersiapkan," kata Sukadarma.
Untuk mendukung integrasi digital, RSUP Prof. Ngoerah menggunakan sistem bernama Simetris sebagai tulang punggung operasional pelayanan. Sistem yang merupakan hasil pengembangan bersama dengan Rumah Sakit Sardjito ini menjadi backbone untuk layanan end-to-end. Melalui Simetris, perjalanan pasien mulai dari pendaftaran, proses pelayanan, pemeriksaan, hingga pasien pulang dan pengajuan klaim ke BPJS Kesehatan telah terintegrasi dalam satu sistem teknologi informasi.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

3 hours ago
1















































