Psikolog Bedah Pola Asuh 'Anak Emas' Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola asuh di keluarga Taufik Hidayat, pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap kekasihnya YTR di Kabupaten Bandung, kini menjadi sorotan. Sifat bengis dan tempramen Taufik diduga terkait dengan pola asuh di keluarga yang selalu memperlakukannya sebagai anak emas.

Dalam podcast bersama Gubernur Jawa Barat, sang ayah mengungkap bahwa sejak kecil Taufik menjadi anak kesayangan karena dianggap paling ganteng dibandingkan saudara-saudaranya. Kondisi ini membuat Taufik kerap dibela bahkan ketika melakukan kesalahan.

Menanggapi hal tersebut, psikolog klinis senior sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, mengatakan lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Menurutnya, pola pengasuhan yang diterapkan orang tua akan meninggalkan jejak yang kuat terhadap pembentukan konsep diri, kepribadian, hingga perilaku anak ketika memasuki usia dewasa.

"Pola pengasuhan dalam keluarga tentu menorehkan banyak jejak warna dalam pembentukan konsep diri, kepribadian, dan perilaku yang bersangkut ketika ia dewasa. Pengaruhnya besar dan sangat signifikan," kata Ratih saat dihubungi Republika, Jumat (26/6/2026).

Ratih menilai pola asuh "golden child" atau selalu memusatkan perhatian kepada satu anak dan selalu memenuhi semua keinginannya dapat berdampak pada emosional anak. Anak tersebut berpotensi tumbuh dengan ego yang sangat besar dan kurang peduli terhadap orang lain.

"Karena terbiasa apa-apa hanya untuk dia, egonya bisa bertumbuh sangat besar, menjadi pribadi yang selfish dan kurang peduli kepada orang lain," kata Ratih yang juga menjabat Tim Ahli Pokja Kesehatan Jiwa Kemenkes RI.

Namun demikian menurut Ratih, pola asuh "golden child" tidak lantas mematikan empati pada anak. Menurut dia, anak bisa saja tetap memiliki empati, tetapi pada saat yang sama tumbuh dengan kecenderungan lebih mementingkan dirinya sendiri.

"Hanya saja apakah dengan pemanjaan sebagai golden child membuat empati seseorang tidak bertumbuh, itu yang belum tentu. Tapi bisa jadi dia tumbuh jadi individu yang egois, mementingkan diri sendiri," kata dia.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |