Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia dan Belarus menggelar latihan nuklir besar-besaran yang melibatkan 64 ribu prajurit dan ratusan persenjataan.
Associated Press (AP) melaporkan latihan itu dihelat sejak Selasa (19/5) dan dipantau langsung Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko melalui panggilan video.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Truk-truk yang membawa rudal balistik antarbenua bergemuruh di jalan, kapal selam bertenaga atom berlayar dari pelabuhan Arktik dan Pasifik, serta para kru bergegas masuk ke pesawat tempur. Ini merupakan latihan nuklir bersama tahap akhir Rusia dan Belarus.
"Penggunaan senjata nuklir adalah tindakan ekstrem dan luar biasa untuk menjamin keamanan nasional negara kita," kata Putin.
Latihan ini berlangsung di tengah gempuran serangan pesawat tak berawak Ukraina, yang menghantam hingga pinggiran ibu kota Moskow. Tiga orang tewas dan bangunan-bangunan serta fasilitas industri rusak imbas serangan tersebut.
Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Rusia, latihan bersama ini melibatkan lebih dari 200 peluncur rudal, lebih dari 140 pesawat, 73 kapal perang permukaan, dan 13 kapal selam, termasuk delapan yang dipersenjatai dengan rudal balistik antarbenua (ICBM) berhulu ledak nuklir.
Latihan ini disebut berfokus pada "persiapan dan penggunaan kekuatan nuklir di bawah ancaman agresi."
Selain ICBM berhulu ledak nuklir yang diluncurkan dari darat dan kapal selam, latihan ini juga menampilkan beragam senjata jarak pendek dan menengah.
Berbeda dengan rudal antarbenua yang dapat menghancurkan seluruh kota, senjata nuklir taktis yang dirancang untuk melawan pasukan di medan perang memiliki daya hancur yang lebih rendah. Senjata ini meliputi bom udara dan hulu ledak untuk rudal jarak pendek dan menengah serta amunisi artileri.
"Kami sama sekali tidak mengancam siapa pun. Tapi kami memiliki senjata seperti itu, dan kami siap dengan segala cara untuk membela tanah air kita bersama dari Brest hingga Vladivostok," kata Lukashenko, seperti dikutip Al Jazeera.
Lukashenko menekankan latihan ini bersifat defensif dan merupakan "satu-satunya demonstrasi dari pihak kami". Ia juga menyatakan bahwa negara-negara yang memiliki kemampuan seperti itu "harus tahu bagaimana menggunakannya".
(blq/dna)
Add
as a preferred source on Google

16 hours ago
3
















































