REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI - Bagi banyak mahasiswa, dosen pembimbing kerap dianggap sebagai sosok yang menentukan cepat atau lambatnya kelulusan. Setiap revisi yang diberikan sering kali dipandang sebagai hambatan baru dalam perjalanan menyelesaikan skripsi.
Padahal, dosen pembimbing punya tujuan berbeda. Mereka tidak berupaya mempersulit mahasiswa, melainkan memastikan penelitian yang disusun memiliki kualitas yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Skripsi sendiri bukan sekadar syarat administrasi untuk lulus kuliah. Lebih dari itu, skripsi menjadi proses pembelajaran yang melatih mahasiswa berpikir kritis, menyusun solusi, serta mengkomunikasikan hasil penelitian secara sistematis.
Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Bekasi, Suhardi mengatakan persetujuan atau ACC skripsi bukan diberikan karena rasa kasihan kepada mahasiswa, melainkan berdasarkan keyakinan bahwa penelitian tersebut telah memenuhi standar akademik yang ditetapkan.
“ACC skripsi bukan soal dosen merasa kasihan atau ingin segera meluluskan mahasiswa. Dosen akan memberikan persetujuan ketika melihat mahasiswa benar-benar memahami penelitian yang dibuat, mampu mempertanggungjawabkan setiap bagian yang ditulis, serta menunjukkan keseriusan dalam proses revisi,” ujar Suhardi, kepada media, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, salah satu aspek yang paling diperhatikan dosen pembimbing adalah kejelasan argumen dalam penelitian. Mahasiswa harus mampu menjelaskan alasan pemilihan topik, urgensi masalah yang diteliti, hingga relevansi metode yang digunakan.
Data yang melimpah, lanjutnya, tidak akan banyak membantu jika mahasiswa tidak dapat menjelaskan hubungan antarbagian penelitian secara logis dan sistematis.
Selain kualitas akademik, etika komunikasi juga menjadi faktor penting dalam proses bimbingan. Mahasiswa yang menghargai waktu dosen, membuat janji dengan baik, serta terbuka menerima masukan biasanya mampu membangun proses bimbingan yang lebih produktif.
“Dunia akademik tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter profesional. Sikap sopan, disiplin, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi merupakan bagian dari kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa sejak masih kuliah,” kata Suhardi.
Suhardi mengingatkan agar mahasiswa tidak menyepelekan hal-hal teknis seperti kesalahan penulisan, format sitasi, maupun daftar pustaka. Menurutnya, kerapian dokumen menunjukkan tingkat keseriusan mahasiswa dalam menyusun penelitian.
Draf yang rapi memungkinkan dosen fokus menilai substansi penelitian. Sebaliknya, banyaknya kesalahan teknis justru membuat proses bimbingan menjadi lebih panjang karena harus memperbaiki hal-hal mendasar terlebih dahulu.
Suhardi menambahkan mahasiswa sebaiknya selalu datang dalam sesi bimbingan dengan membawa progres. Meski belum sempurna, adanya perkembangan akan memudahkan dosen memberikan arahan yang lebih konkret dibandingkan jika mahasiswa hanya menyampaikan kebingungan tanpa menunjukkan hasil pekerjaan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi selama proses penyusunan skripsi. Tidak sedikit mahasiswa yang memperpanjang masa penyelesaian skripsi karena menghilang setelah mendapatkan revisi atau enggan menyampaikan kendala yang dihadapi.
“Kalau ada hambatan, sampaikan kepada dosen pembimbing. Komunikasi yang rutin dan terbuka akan membantu menemukan solusi lebih cepat. Yang sering menjadi masalah bukan banyaknya revisi, tetapi ketika mahasiswa berhenti bergerak dan kehilangan arah,” ungkapnya.
Menurut Suhardi, kualitas skripsi juga dipengaruhi oleh lingkungan akademik yang mendukung. Kampus yang menyediakan akses literatur, sistem pembelajaran yang baik, serta dosen yang kompeten akan membantu mahasiswa menghasilkan penelitian yang lebih terarah.
Di Bekasi, UBSI kampus Bekasi terus mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan ekosistem digital dalam proses belajar dan penelitian. Sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI menyediakan berbagai fasilitas akademik yang mendukung pengembangan riset, akses referensi, dan pembelajaran berbasis teknologi.
“Skripsi seharusnya tidak dipandang sebagai beban yang menakutkan. Ini adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat. Dengan kesiapan yang baik dan dukungan lingkungan kampus yang tepat, proses penyusunannya akan terasa lebih ringan,” tutur Suhardi.
Pada akhirnya, dosen pembimbing bukanlah lawan yang harus dihindari. Mereka menjadi mitra akademik yang membantu mahasiswa mencapai garis akhir dengan kualitas terbaik. Oleh karena itu, mahasiswa yang punya argumen jelas, disiplin mengerjakan revisi, menjaga komunikasi, dan menunjukkan sikap profesional akan memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh ACC skripsi dan menyelesaikan studinya tepat waktu.
Bagi calon mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan di lingkungan akademik yang mendukung pengembangan diri, riset, dan keterampilan profesional, informasi mengenai pendaftaran mahasiswa baru UBSI dapat diakses melalui pmbubsi.id.

4 hours ago
8












































