Orang utan (ilustrasi). Sejumlah figur publik Indonesia seperti Gading Marten, Dimas Anggara, Amanda Zahra, dan Tamara Dai berpartisipasi dalam program adopsi virtual orang utan untuk mendukung konservasi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah figur publik Indonesia seperti Gading Marten, Dimas Anggara, Amanda Zahra, dan Tamara Dai berpartisipasi dalam program adopsi virtual orang utan untuk mendukung konservasi. Partisipasi mereka diketahui melalui sertifikat adopsi yang dibagikan dalam Instagram Stories organisasi nirlaba Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.
Gerakan adopsi ini semakin meningkat di tengah kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membahayakan habitat asli orangutan endemik Kalimantan. Aksi adopsi secara daring ini juga ramai disuarakan oleh warganet melalui media sosial sebagai bentuk dukungan terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan orangutan.
Apa itu adopsi virtual orang utan?
Mengutip laman BOS Foundation, program adopsi virtual memungkinkan masyarakat mengadopsi orang utan secara daring. Melalui program ini, adopter akan menerima kabar terbaru mengenai perkembangan proses rehabilitasi orang utan yang mereka adopsi sekaligus mendukung perjalanan satwa tersebut menuju kebebasan sejati.
Jadi program ini bukan berarti orang utan dibawa pulang untuk dipelihara. Dukungan dari adopter digunakan untuk membantu proses perawatan dan rehabilitasi orangutan di pusat rehabilitasi BOS Foundation.
Dana digunakan untuk apa?
Dengan mengadopsi salah satu orang utan di pusat rehabilitasi, adopter turut mendukung proses perawatan satwa sepanjang waktu yang dilakukan tim BOS Foundation. Orang utan yatim piatu perlu mempelajari berbagai keterampilan dasar sebelum dapat dikembalikan dan bertahan hidup di alam liar.
Dalam proses tersebut, ibu asuh memiliki peran penting. Mereka membantu mengajarkan keterampilan dasar kepada orangutan yatim piatu sebagai bekal untuk menjalani kehidupan di habitat alaminya.

1 hour ago
2















































