REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, Rahendro Heru Bowo, masih menjalani observasi intensif di Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jakarta Timur, usai dipulangkan ke Indonesia. Pihak keluarga menyebut Heru mengalami sejumlah keluhan kesehatan sehingga harus segera mendapatkan penanganan medis usai tiba di Tanah Air.
Kakak Heru, Saldy Sasmita, mengatakan adiknya dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) setelah tiba di Jakarta. Saat ini, tim dokter masih melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui kondisi pasti Heru.
“Sekarang Heru sudah di rumah sakit. Masih tahap observasi, MRI, CT scan, masih tahap itu,” kata Saldy saat dihubungi Republika, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, Heru juga telah menjalani pengambilan sampel darah di IGD untuk pemeriksaan lanjutan. Namun, keluarga belum mengetahui hasil lengkap pemeriksaan medis tersebut.
“Di IGD langsung diambil darah. Memang banyak keluhannya,” ujar Saldy.
Ia belum merinci keluhan yang dialami Heru. Saat ini, kata dia, keluarga masih menunggu perkembangan kondisi kesehatan Heru dari tim dokter yang menangani.
Saldy menuturkan harapan keluarga saat ini adalah memastikan kondisi Heru segera pulih dan dapat kembali beraktivitas normal. “Yang penting adik saya sembuh dulu. Bisa beraktivitas kembali normal,” katanya.
Terkait biaya pengobatan dan penanganan teknis lainnya, Saldy mengaku tidak mengetahui secara detail. Menurutnya, hal tersebut lebih banyak ditangani pihak GPCI yang mendampingi kepulangan Heru ke Indonesia.
Semantara itu, Rahendro Heru Bowo sempat menyebut mengalami sejumlah kekerasan di beberapa bagian tubuh. Ia mengaku mengalami penyiksaan selama ditahan di atas kapal selama dua hari tiga malam. Menurutnya ia dan relawan lain mendapat tekanan fisik maupun psikologis selama berada dalam tahanan.
“Jadi selama kita dimasukkan, dibawa ke ke dalam tahanan kapal ya, selama tiga hari saya, dua hari tiga malam. Itu kita mengalami beberapa penyiksaan. Kalau saya bilang sih ada psychical. Psychological treatment juga. Kita mengalami tekanan ya di situ,” katanya, Ahad (24/5/2026).
Ia menuturkan, para relawan kerap dilempari granat kejut ketika petugas melakukan proses pemindahan tahanan dari satu tempat ke tempat lain. Heru menyebut suara granat kejut tersebut sangat keras dan menimbulkan tekanan mental.
Selain itu, Heru mengaku para tahanan dipaksa terus menundukkan kepala selama proses pemindahan. Menurut dia, tahanan yang mencoba mengangkat kepala akan mendapat kekerasan fisik.
“Kita harus nunduk, enggak boleh angkat kepala sedikit pun. Kita angkat kepala kita ditendang, dipukul,” katanya.
Heru juga mengaku melihat adanya bilik khusus yang disebutnya sebagai tempat eksekusi atau ruang hukuman. Ia mengaku sempat jatuh dan diinjak tentara israel serta disetrum di beberapa bagian tubuh.
“Ya jadi mereka tuh kayak menyiapkan bilik khusus eksekusi, bisa dibilang bilik khusus eksekusi. Jadi setiap kita mau berpindah ruangan ada satu bilik khusus eksekusi di mana kita dipukuli, terus kita ditendang. Bahkan karena saya jatuh saya sempat diinjak juga,” katanya.
“Saya sempat disetrum juga beberapa kali. Begitu sih kurang lebih. Iya disetrum juga di bagian badan, kaki, dan punggung saya. Seperti itu sih kurang lebih,” katanya.

3 hours ago
4

















































