Setelah 1.000 Hari Perang, Genosida Ekologis Mengancam Kehidupan Warga Gaza

3 hours ago 7

Oleh Alaa Shamali, jurnalis dan warga Gaza

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Memasuki hari ke-1.000 perang di Jalur Gaza, dampak kehancuran tidak lagi terbatas pada bangunan yang hancur dan infrastruktur yang lumpuh. Kerusakan tersebut telah berkembang menjadi bencana lingkungan dan kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengancam kehidupan lebih dari dua juta penduduk serta memperumit upaya pemulihan dan rekonstruksi di masa depan.

Kerusakan besar-besaran terhadap rumah, fasilitas umum, dan layanan dasar telah menyebabkan penumpukan puing dalam jumlah sangat besar yang bercampur dengan limbah perang, bahan berbahaya, dan amunisi yang belum meledak. Kondisi ini menjadikan banyak wilayah di Gaza tidak lagi aman untuk dihuni serta menciptakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Sektor air bersih dan sanitasi menjadi salah satu yang paling terdampak. Kerusakan pada sumur, jaringan distribusi, stasiun pemompaan, dan instalasi pengolahan limbah menyebabkan layanan dasar menurun drastis. Di saat yang sama, pencemaran air tanah oleh limbah domestik meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air.

Meningkatnya pencemaran tanah dan laut turut memperburuk kondisi lingkungan, sementara keterbatasan air bersih yang aman semakin meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat.

Sampah, Hama, dan Laut yang Tercemar

Runtuhnya sistem pengelolaan sampah menyebabkan limbah rumah tangga, medis, dan limbah berbahaya menumpuk di kawasan permukiman serta tempat-tempat pengungsian. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi berkembangnya tikus, serangga, dan berbagai vektor penyakit.

Di sisi lain, pembuangan air limbah yang tidak diolah langsung ke laut mempercepat kerusakan ekosistem pesisir dan mengancam sumber daya perikanan, sekaligus menambah risiko kesehatan bagi masyarakat yang bergantung pada laut.

Ageesi Israel juga menghancurkan sektor pertanian. Lahan pertanian, kebun, dan berbagai sumber daya alam mengalami kerusakan serta penggusuran dalam skala luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan terhadap produksi pangan, tetapi juga terhadap perekonomian lokal dan mata pencaharian ribuan keluarga Palestina.

Kondisi tersebut semakin memperburuk krisis ketahanan pangan di Gaza, yang telah lama menghadapi keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.

Amunisi yang Belum Meledak Menghambat Pemulihan

Selain pencemaran lingkungan, keberadaan amunisi yang belum meledak dan sisa-sisa bahan peledak masih menjadi ancaman langsung bagi warga sipil. Bahaya ini menghambat proses pembersihan puing, memperlambat rekonstruksi, dan meningkatkan risiko kecelakaan di berbagai wilayah.

Puing-puing yang mengandung bahan berbahaya, termasuk asbes, juga memerlukan penanganan khusus agar tidak menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.

Upaya memulihkan kondisi lingkungan di Gaza memerlukan langkah-langkah mendesak, mulai dari pembersihan puing dan amunisi, pemulihan sistem air dan sanitasi, pengelolaan limbah, rehabilitasi lahan pertanian, hingga pengendalian pencemaran dan wabah penyakit.

Namun, keberhasilan proses tersebut bergantung pada tersedianya akses bagi alat berat, bahan bangunan, bahan bakar, serta dukungan pendanaan internasional yang memadai untuk membangun kembali infrastruktur dan memulihkan layanan dasar.

Setelah 1.000 hari perang, krisis lingkungan telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Gaza. Upaya menyelamatkan lingkungan kini tidak hanya menjadi bagian dari proses rekonstruksi, tetapi juga merupakan syarat utama untuk melindungi kesehatan masyarakat dan memastikan kehidupan yang layak bagi penduduk di masa depan.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |