Hubungan Kondisi Psikolog Orang Tua dalam Pemerolehan Bahasa Pertama Anak

9 hours ago 9

Image farah cahyani

Sastra | 2026-07-09 15:12:41

Orang tua berperan sebagai perantara bahasa pertama pada anak yang memberikan contoh penggunaan bahasa yang benar dan baik sejak anak lahir. Dalam proses pemerolehan bahasa pertama, anak belajar melalui pengamatan dan pendengaran bagaimana perilaku berbahasa orang di sekitarnya. Anak juga tidak hanya menyerap bagaimana kosakata yang digunakan oleh kedua orang tua nya, tetapi juga struktur kalimat dan intonasi yang diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Penelitian yang dilakukan oleh Kholisah, et al. (2025) menunjukkan bahwa orang tua berperan penting sebagai model bahasa, pemberi stimulus, pembimbing penggunaan bahasa, dan motivator perkembangan linguistik anak.

Penelitian ini memberikan pernyataan bahwa orang tua berperan sebagai model yang sangat penting karena anak secara alami cenderung menyerap pola berbahasa dari orang yang paling sering berinteraksi dengan mereka. Namun dalam pemerolehan bahasa pertama anak perlu juga untuk mempertimbangkan bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh orang tua memiliki kondisi psikologi yang baik. Oleh sebab itu, pemerolehan bahasa pertama anak sangat erat kaitannya dengan orang tua, terutama dengan background keluarga yang memiliki kondisi psikologi yang memadai, karena faktor tersebut dapat menentukan arah perkembangan lingusitik anak dari ia lahir hingga dewasa.

Orang tua dapat memberikan stimulus verbal yang konsisten dan interaksi responsif pada anak agar dapat mempercepat perkembangan bahasa anak, namun hal ini hanya efektif ketika orang tua memiliki kondisi psikologis yang sehat dan stabil. Anak membutuhkan lingkungan berbahasa yang baik dan responsif untuk membantu mengembangkan kemampuan berbahasa mereka secara optimal, tetapi kualitas interaksi tersebut sangat bergantung pada keadaan emosional dan mental orang tua.

Contohnya seperti pada anak yang berusia 6 bulan ketika orang tua mengeluarkan kosakata atau berbahasa dengan nada yang lembut serta ekspresi wajah yang ceria, hal tersebut dapat membantu anak mengenali fonem, membangun kedekatan emosional dengan orang tua, serta merangsang kognitif di otaknya untuk memproses komunikasi yang interaktif. Namun, jika orang tua mengalami stres, depresi, atau gangguan emosional, nada lembut dan ekspresi ceria tersebut sulit diwujudkan, sehingga anak kehilangan stimulus penting untuk perkembangan bahasa. Roza & Rani (225: 2025) menyatakan bahwa salah satu bentuk utama interaksi ini adalah child-directed speech (CDS), yakni gaya berbicara orang dewasa kepada anak-anak yang ditandai dengan nada suara yang lebih tinggi, tempo bicara yang lebih lambat, pelafalan yang diperjelas, intonasi yang bervariasi dan ekspresif, serta pengulangan dan penyederhanaan struktur kalimat.

Dalam bukunya, Roza, W & Rani, A (233: 2025) membandingkan teori formal (tata bahasa bawaan) dan teori berbasis penggunaan (interaksi sosial dan pengalaman), hasilnya menyatakan bahwa pendekatan pemerolehan bahasa yang berbasis interaksi sosial dan penggunaan aktual menunjukkan bahwa bahasa adalah produk pengalaman komunikatif yang bermakna, bukan hanya hasil aktivasi sistem kognitif bawaan. Pendapat ini memberikan pernyataan bahwa emosi, motivasi, dan interaksi sosial sangat berperan dalam perkembangan bahasa anak, sehingga dukungan emosional dari orang tua yang memiliki kondisi psikologis sehat merupakan prasyarat bagi anak untuk terlibat aktif dalam pembelajaran bahasa pertama anak.

Dengan demikian, kondisi psikologis orang tua bukan sekadar faktor tambahan dalam pemerolehan bahasa pertama, melainkan faktor yang paling penting dalam membentuk fondasi yang menentukan apakah stimulus verbal dan interaksi responsif dapat diberikan secara optimal atau tidak. Orang tua dengan kondisi psikologis sehat dan stabil mampu memberikan CDS yang efektif, ekspresi ceria, dan nada lembut yang diperlukan anak untuk mengenali fonem dan membangun kedekatan emosional, sehingga peran orang tua sebagai perantara bahasa hanya dapat dijalankan secara maksimal ketika mereka memiliki kondisi psikologi yang memadai, hal ini juga dapat menjadi penentu kemana arah perkembangan linguistik anak dari lahir hingga dewasa.

Unggahan sosial media yang memperlihatkan Kenneth, namanya dikenal Kenkulus (gabungan dari Ken dan kalkulus), ia mampu mengenali konsep seperti rumus matematika, organ tubuh, dan nama planet di usia 2 tahun, hal ini merupakan bukti empiris nyata bahwa kondisi psikologis orang tua yang sehat dan stabil menentukan keberhasilan stimulasi verbal dalam pemerolehan bahasa pertama anak. Di sosial media, khususnya dalam akun Tiktok @imchika21, dimana orang tuanya aktif mengunggah kegiatan Ken.

Dalam unggahan sosial media, Kenneth bukan hanya menunjukkan kemampuan kosakata yang luas, tetapi juga dapat berkomunikasi dengan aktif dan responsif, ia mampu memberikan respon yang baik terhadap pertanyaan orang tua, menjelaskan konsep kompleks, memberikan pertanyaan-pertanyan kritis untuk anak seusianya dan menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam proses belajar. Kemamuan ini muncul dari hasil lingkungan psikologis yang optimal di rumah, di mana orang tua Kenneth memiliki kondisi emosi yang sehat, motivasi tinggi untuk mengembangkan potensi anak, dan stabilitas mental yang memungkinkan mereka memberikan stimulasi konsisten.

Seperti dalam setiap unggahan sosial media, orang tua Ken menggunakan nada yang lembut ketika memberikan pertanyaan atau jawaban, orang tuanya juga selalu memberikan apresiasi ketika Ken berhasil melakukan sesuatu atau menjawab pertanyaan yang sulit untuk anak seusianya. Selain itu, Ken juga disuguhi buku buku cerita atau buku pengetahuan secara konsisten selama tumbuh kembangnya. Nada lembut yang digunakan orang tua Ken merupakan bentuk CDS yang membantu anak mengenali fonem, membangun kedekatan emosional, dan merangsang kognitif otak untuk memproses komunikasi interaktif.

Pemberian apresiasi yang terus-menerus menciptakan rasa aman emosional yang mendorong Ken lebih berani mengeksplorasi kosakata baru, mengucapkan kalimat yang lebih kompleks, dan aktif berinteraksi tanpa takut dikritik. Penyuguhan buku-buku secara konsisten sejak kecil memperkaya kosakata, dan memperkenalkan struktur kalimat yang lebih variatif. Dengan demikian, unggahan sosial media yang memperlihatkan Ken membuktikan bahwa orang tua dengan kondisi psikologis sehat dan stabil mampu memberikan CDS yang efektif, ekspresi ceria, dan nada lembut yang diperlukan anak untuk mengenali fonem dan membangun kedekatan emosional, sehingga peran orang tua sebagai perantara bahasa hanya dapat dijalankan secara maksimal ketika mereka memiliki kondisi psikologi yang memadai.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |