Pelatih Timnas Putri Indonesia U-16 Timo Scheunemann (kiri)(MI/Nadif)
PELATIH Timnas Putri Indonesia U-16 Timo Scheunemann menilai laga final Srikandi Merdeka Cup 2026 melawan Tailan akan menjadi pengalaman krusial bagi Garuda Pertiwi.
Tiket puncak diraih usai mengandaskan Yordania 3-0 pada babak semifinal di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (21/8).
Kemenangan tersebut diraih meski Indonesia harus melakukan bongkar pasang posisi akibat absennya sejumlah pilar utama. Kendati demikian, Garuda Pertiwi mampu mempertahankan keunggulan hingga laga usai. Timo pun bersyukur ambisinya menjajal kekuatan Tailan akhirnya terwujud.
"Yang penting final. Saya sangat bersyukur karena ambisi pribadi saya, ingin main lima kali seperti yang saya bilang di awal, dan yang tidak saya bilang adalah ingin bertemu Tailan. Puji Tuhan dua-duanya terkabulkan," kata Timo.
Bagi juru taktik berdarah Jerman tersebut, Tailan, bersama Vietnam dan Australia, merupakan 'Trisula' kekuatan sepak bola putri di kawasan kawasan yang harus dirasakan langsung oleh anak-anak asuhnya. Namun, ia menekankan bahwa raihan trofi bukanlah prioritas utamanya di level usia muda.
"Saya selalu mau mencetak pemain. Mencetak pemain itu jangka panjang. Kalau sampai kita juara, pialanya itu bonus. Piala saya sesungguhnya adalah semua pemain saya, piala berjalan," tegasnya.
Perjalanan menuju final tidak sepenuhnya mulus. Meski menang tiga gol tanpa balas atas Yordania yang bermain dengan 10 pemain, performa Garuda Pertiwi di babak kedua menyisakan catatan evaluasi. Pemain Indonesia Shifana Rizka Nadhifa mengakui timnya masih sering terburu-buru.
"Kita kurang simpel mainnya, terlalu terburu-buru untuk main ke depan," ungkap Shifana.
Timo pun menyoroti kecenderungan para pemain muda yang masih suka tampil individualis. Menurutnya, proses belajar mengatasi tekanan serta membangun kerja sama tim menjadi fokus pembinaan di level junior.
"Sepak bola itu permainan tim. Harus bermain sebagai tim, di luar harus ada chemistry, di dalam lapangan juga harus ada chemistry, harus kerja sama, tidak boleh sendiri-sendiri," tutur Timo.
"Ini junior, kelompok umur, prosesnya memang di sini. Orang terlahir jago? Tidak bisa. Ada bakat, tetapi harus dikembangkan. Salah satunya yang harus dikembangkan adalah bisa mengatasi tekanan," tambahnya.
Menghadapi partai final, Timo belum membeberkan skema khusus. Ia menilai Tailan unggul dalam penguasaan bola dan ketenangan, sementara Indonesia mengandalkan kecepatan.
"Mereka hebatnya possession, bukan eksplosivitas. Kita hebatnya eksplosivitas, kurang di possession. Yang bisa kita pelajari dari Tailan adalah mereka tenang," ujar Timo.
Pertandingan final Srikandi Merdeka Cup 2026 antara Indonesia dan Tailan akan melangsungkan kick-off di Supersoccer Arena, Kudus, Minggu (23/8) pukul 20.00 WIB. Tailan melenggang ke partai puncak usai melibas Malaysia 5-1 di semifinal.
(P-4)













































