Tetap Berprestasi di Tengah Keterbatasan, Cinta tak Gentar Mengejar Cita-Cita

5 days ago 4
Tetap Berprestasi di Tengah Keterbatasan, Cinta tak Gentar Mengejar Cita-Cita Cinta (kiri).(MI/Marianus Marselus)

DI tengah keterbatasan hidup yang jauh dari kata layak, Marselina Lovelia Kurniati Rindu, atau akrab disapa Cinta, tetap mempertahankan semangat untuk bersekolah dan berprestasi. Cinta baru berusia 11 tahun. Kini, ia duduk di Kelas I SMP Negeri 1 Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di usia yang masih belia, Cinta harus menjalani kehidupan tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Ia kehilangan ibu ketika masih berusia sekitar satu tahun. Sang ayah kemudian pergi meninggalkannya tanpa pengasuhan.

Sejak kecil, Cinta diasuh oleh kakek dan neneknya, Sebas Tonggo dan Katarina Labe. Namun, pada 2024, sang kakek meninggal dunia. Sejak saat itu, Cinta hanya tinggal bersama neneknya, Katarina Labe, yang kini telah lanjut usia.

Keduanya tinggal di Kampung Compang, RT 015/RW 007, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.

Rumah yang mereka tempati merupakan peninggalan almarhum kakek Cinta. Bangunan berukuran sekitar 7 x 6 meter itu berdinding bambu dan papan yang sebagian sudah berlubang. Lantainya masih berupa tanah, sedangkan atapnya menggunakan seng yang telah berkarat. Sebagian bangunan juga masih menggunakan bambu.

Saat hujan turun, air masuk melalui celah-celah atap rumah. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Cinta kehilangan semangat untuk belajar.

Tetap Berprestasi Meski Hidup Serba Kekurangan

Keterbatasan ekonomi justru membuat Cinta semakin gigih mengejar pendidikan.

Saat masih bersekolah di SDI Compang Ngeles, Cinta dikenal sebagai siswi yang rajin dan berprestasi. Ia selalu berhasil meraih peringkat pertama di sekolah.

Kini, setelah melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Elar, semangat tersebut tetap ia pertahankan.

Setiap hari, Cinta berjalan kaki pergi dan pulang sekolah. Ia menjalani perjalanan dengan pakaian seadanya, sandal yang sudah tidak layak, serta tas lusuh berisi buku-buku pelajaran. Tidak ada kendaraan yang mengantarnya ke sekolah. Fasilitas belajar yang memadai pun tidak tersedia di rumah.

Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi Cinta untuk berhenti belajar.

“Cinta anak yang sangat rajin, sopan, dan selalu aktif di sekolah. Meski kurang mampu, ia tak pernah absen berprestasi,” ujar salah seorang mantan gurunya.

Di balik semangat Cinta untuk bersekolah, ada perjuangan panjang sang nenek, Katarina Labe. Sebagai satu-satunya orang yang mengasuh Cinta, Katarina harus bekerja serabutan di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.

Dari pekerjaan tersebut, ia berusaha memenuhi kebutuhan makan, pakaian, buku, seragam, dan biaya sekolah Cinta.

“Sebagai kepala keluarga, saya harus menanggung segalanya. Makan, kebutuhan sekolah Cinta, buku, dan seragam. Namun, apa daya, penghasilan serabutan tak cukup untuk kami berdua,” ujar Katarina dengan mata berkaca-kaca.

Katarina mengatakan dirinya dan Cinta telah terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Sementara itu, Cinta menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Namun, bantuan tersebut belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup dan pendidikan Cinta. Kondisi rumah yang mereka tempati juga membutuhkan perhatian.

“Rumah kami bocor di mana-mana. Saat hujan, kami kedinginan dan basah. Kami hidup sangat sederhana, bahkan sulit dikatakan layak,” katanya.

Anak laki-laki Katarina yang merupakan paman kandung Cinta saat ini masih berada di perantauan. Karena itu, kehidupan sehari-hari Cinta dan neneknya lebih banyak ditopang oleh hasil kerja serabutan serta bantuan dari keluarga dan warga sekitar.

Di tengah kondisi tersebut, Cinta tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya ingin tetap bersekolah dan meraih cita-citanya.

Sepulang sekolah, Cinta membantu neneknya mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah itu, ia kembali belajar dan mempersiapkan diri mengikuti pelajaran di sekolah.

Bagi Cinta, keterbatasan pakaian, sandal yang sudah rusak, perjalanan kaki menuju sekolah, hingga kondisi rumah yang bocor bukan alasan untuk menyerah.

“Saya ingin tetap bersekolah, kelak ingin menjadi orang yang sukses. Saya ingin membalas kasih sayang Nenek,” tutur Cinta.

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang mimpi seorang anak yang sejak kecil harus kehilangan kedua orang tuanya.

Cinta mungkin tumbuh dalam rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Namun, dari tempat sederhana itu, ia terus menyalakan mimpi tentang masa depan.

Kini, Cinta dan neneknya berharap ada kepedulian dari berbagai pihak untuk membantu kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari, sekaligus memperbaiki rumah mereka agar lebih layak dan aman dihuni.

Sebab, di balik keterbatasan itu, ada seorang siswi SMP yang masih ingin terus belajar, berprestasi, dan membuktikan bahwa keadaan ekonomi bukan alasan untuk memadamkan cita-cita. (M/P-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |