Trims China dan Indonesia! Harga Batu bara Terbang 4 Hari Beruntung

2 hours ago 2

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

16 January 2026 10:37

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara naik selama empat hari beruntun, merespon lonjakan permintaan dari China dan pengetat suplai dari Indonesia.

Merujuk data Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle pada perdagangan kemarin Kamis (15/1/2026) mengakhiri posisi di US$ 110,70 per ton, ini merupakan penguatan tertinggi selama sekitar 1,5 bulan sejak 28 November 2025 yang ditutup di US$ 110,40 per ton.

Adapun sepanjang perdagangan kemarin, harga batu bara sempat menguat lebih dari 1% menembus level tertinggi ke atas US$ 111 per ton.

Kabar positif datang dari lonjakan impor batu bara China pada Desember 2025. Data General Administration of Customs mencatat impor batu bara China mencapai rekor bulanan tertinggi sepanjang sejarah sebesar 58,59 juta ton metrik.

Lonjakan ini dipicu oleh aktivitas penimbunan stok menjelang musim dingin, ketika kebutuhan pemanas biasanya mendorong konsumsi batu bara meningkat.

Kenaikan impor ini juga sejalan dengan langkah China yang mulai mengoperasikan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara yang ditargetkan mulai menyuplai listrik pada tahun ini.

Sebagai konsumen, produsen, sekaligus importir batu bara terbesar di dunia, China masih mengandalkan batu bara untuk menopang aktivitas ekonominya, meskipun di saat yang sama ekspansi energi terbarukan terus digenjot. Meski begitu, Beijing tetap menyatakan komitmen untuk mulai menurunkan penggunaan batu bara sebelum 2030.

Namun, jika ditarik ke gambaran yang lebih panjang, tren permintaan China sebenarnya tidak sekuat lonjakan jangka pendek tersebut.

Sepanjang 2025, impor batu bara China justru turun 9,6% menjadi sekitar 490 juta ton, masih di bawah rekor impor tahun 2024.

Bahkan, laporan dari lembaga swasta mencatat produksi listrik berbasis batu bara di China dan India sama-sama menurun pada 2025. Ini menjadi penurunan bersamaan pertama dalam 50 tahun terakhir, seiring kedua negara tersebut mencatat penambahan kapasitas energi bersih pada level rekor.

Dari sisi pasokan, sentimen tambahan datang dari Indonesia. Pemerintah menyepakati pengetatan suplai melalui persetujuan RKAB 2026, yang sekaligus menandai kembalinya mekanisme persetujuan RKAB tahunan, menggantikan skema tiga tahunan sebelumnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui penurunan target produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun sekitar 24% atau hampir 200 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan penyesuaian ini dilakukan sesuai kebutuhan industri dan ditujukan untuk membantu menstabilkan harga komoditas global.

Sebagai catatan, perdagangan batu bara global pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 1,3 miliar ton per tahun, dengan kontribusi Indonesia sekitar 514 juta ton.

Pada Januari hingga September 2025, produksi batu bara Indonesia tercatat turun 15% secara tahunan menjadi 509 juta ton, sementara ekspor melemah 4,7% menjadi sekitar 285 juta ton.

Pengiriman ke pasar utama seperti China dan India masing-masing turun 16% dan 12%, mencerminkan melambatnya permintaan seiring meningkatnya produksi domestik dan percepatan transisi energi.

Dalam penghitungan kami, jika Indonesia mengurangi 24% suplai produksi dan dua pertiga-nya masih diekspor, suplai batu bara di pasar global akan berkurang sekitar 10% pada tahun ini.

Meski demikian, kondisi pasar global masih dibayangi risiko kelebihan pasokan. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan batu bara global pada 2026 berada di kisaran 8,78 miliar ton, masih di bawah estimasi pasokan yang mencapai 9,1 miliar ton.

Kondisi ini memperpanjang fase oversupply di pasar global. Tekanan tersebut tercermin dari pergerakan harga sebelumnya, di mana Harga Batu Bara Acuan (HBA) Indonesia pada paruh pertama Januari 2026 turun ke US$103,3 per ton, dari US$109,74 per ton pada akhir Oktober 2025 dan jauh di bawah level US$114,43 per ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |