Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, melakukan kunjungan resmi ke Rusia pada Minggu (waktu setempat) hingga Rabu. Dalam lawatan tersebut, kedua negara dijadwalkan menandatangani sejumlah perjanjian penting, terutama di sektor energi.
Pemerintah Vietnam menyebut kunjungan ini bertujuan mempererat hubungan bilateral sekaligus memperluas kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan energi. Fokus utama mencakup penguatan kolaborasi minyak dan gas, serta pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir.
Dalam pernyataan resmi, Hanoi menegaskan bahwa sejumlah kesepakatan strategis akan diteken selama kunjungan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Serangkaian perjanjian penting terkait proyek pembangkit listrik tenaga nuklir, serta kerja sama energi dan minyak dan gas akan ditandatangani," demikian pernyataan pemerintah Vietnam, mengutip AFP.
Selain itu, kerja sama energi antara kedua negara akan diperluas ke berbagai sektor, mulai dari perdagangan, eksplorasi, hingga produksi dan pelatihan sumber daya manusia.
Kunjungan ini berlangsung di tengah upaya Vietnam memperkuat cadangan energi nasional. Negara tersebut tengah menghadapi lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya pasokan global, terutama sejak meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sejak konflik tersebut memanas pada akhir Februari, harga bensin oktan 95 di Vietnam dilaporkan melonjak hingga 50 persen, sementara harga solar naik sekitar 70 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi kelangkaan energi di negara yang dikenal sebagai salah satu pusat manufaktur di Asia Tenggara itu.
Sebelumnya, Pham Minh Chinh juga telah melakukan pembicaraan via telepon dengan sejumlah negara untuk meminta dukungan pasokan energi, termasuk Qatar, Kuwait, Aljazair, dan Jepang.
Selama berada di Rusia, Chinh dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin. Pemerintah Rusia menyatakan bahwa pertemuan tersebut akan membahas isu perdagangan bilateral, dengan fokus pada implementasi proyek bersama di sektor energi dan bidang strategis lainnya.
Kerja sama energi antara Vietnam dan Rusia sendiri telah terjalin dalam beberapa tahun terakhir. Saat Mishustin berkunjung ke Hanoi pada Januari 2025, Rusia menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam pembangunan industri tenaga nuklir nasional Vietnam.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara juga menandatangani kesepakatan energi nuklir. Vietnam bahkan menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama dalam lima tahun ke depan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi jangka panjang.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
1

















































