Tanaman padi yang kekeringan di Indramayu.(Dok. KTNA Indramayu)
SEBANYAK 10.673 hektare areal tanaman padi di wilayah Indramayu Barat, Jawa Barat, kini berada dalam ancaman gagal panen atau puso akibat kekeringan yang berkepanjangan. Meski penggelontoran air irigasi sudah dimulai, pasokan yang tersedia saat ini baru mampu menjangkau sekitar 25 persen dari total lahan yang terdampak.
Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengungkapkan bahwa suplai air dari Bendung Salamdarma yang bersumber dari Waduk Jatiluhur belum maksimal. Hingga Rabu (29/7), baru sekitar 2.500 hektare dari total 10 ribu hektare lebih tanaman padi di enam kecamatan yang mulai teraliri air.
“Alhamdulillah sekarang mulai bisa terbantu, walaupun belum maksimal suplai airnya. Belum semua. Baru sekitar 25% dari 10 ribu hektare tanaman padi di enam kecamatan yang mengalami kekeringan di wilayah Indramayu barat,” tutur Sutatang.
Enam kecamatan yang terdampak serius meliputi Kecamatan Sukra, Patrol, Anjatan, Bongas, Gabuswetan, dan Kandanghaur. Tanaman padi yang terancam rata-rata masih berusia muda, berkisar antara 7 hingga 25 hari, sehingga sangat rentan terhadap kekurangan air.
Upaya penyelamatan sebenarnya telah dilakukan sejak Jumat (24/7) setelah permohonan audensi KTNA kepada Unit Pelayanan Irigasi dikabulkan. Bahkan, pada Senin (27/7), perwakilan Kementerian Pertanian bersama Bupati Indramayu, Lucky Hakim, telah meninjau lokasi dan melaksanakan sholat istisqo bersama petani untuk memohon turunnya hujan.
Namun, kendala teknis di lapangan masih terjadi. Sutatang menyebutkan debit air yang mengalir di saluran irigasi masih terlalu kecil. Kondisi ini memaksa sejumlah petani menggunakan pompa air secara mandiri untuk menyedot air dari saluran irigasi agar bisa sampai ke petak sawah mereka.
KTNA berharap pemerintah dan pihak terkait dapat meningkatkan volume penggelontoran air dalam waktu dekat. Jika dalam 15 hari ke depan sisa 75% lahan yang kekeringan tidak segera mendapatkan pasokan air, risiko puso massal tidak terhindarkan.
Kondisi ini menjadi alarm bagi ketahanan pangan daerah, mengingat luasnya lahan yang terdampak. Puso pada skala ini dipastikan akan memukul produktivitas gabah dan pasokan beras nasional yang selama ini disokong oleh Kabupaten Indramayu. (Z-10)
















































