5 Emiten RI Ini Nyaris Gak Punya Utang: Hidup Damai, Tanpa Drama

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang memang menjadi opsi menarik untuk daya ungkit dalam ekspansi. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa mengancam kelangsungan bisnis perusahaan.

Sebagai contoh, ada emiten tekstil ternama Indonesia PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang resmi dinyatakan pailit pada Oktober 2024 akibat utang yang menggunung. Pada akhirnya, perusahaan ini harus menghentikan operasionalnya pada 1 Maret 2025.

Karena itu, bagi investor yang ingin menghindari risiko utang, salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah mencari perusahaan dengan utang bank dan obligasi yang minim atau bahkan nol.

Hal ini penting karena utang berbasis bunga sangat sensitif terhadap volatilitas suku bunga seperti BI rate yang tampaknya masih akan sulit turun karena rupiah masih bertahan mahal dekat Rp16.900/US$.

Berikut lima emiten di BEI yang tercatat memiliki risiko utang sangat rendah.

1.Saham SIDO

Emiten produsen Tolak Angin, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dikenal sebagai salah satu perusahaan dengan neraca paling sehat di Bursa Efek Indonesia.

SIDO tercatat tidak memiliki utang bank maupun obligasi. Untuk menjaga likuiditas, perusahaan mengandalkan kas internal.

Per September 2025, SIDO mencatat kas dan setara kas sekitar Rp624 miliar, menunjukkan posisi likuiditas yang tetap solid meski perusahaan rutin membagikan dividen kepada pemegang saham.

Dengan arus kas operasional yang kuat, SIDO masih memiliki ruang besar untuk melakukan ekspansi tanpa perlu bergantung pada utang.

2. Saham ACES

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), peritel perlengkapan rumah tangga ini juga dikenal memiliki struktur neraca yang konservatif.

ACES tidak memiliki utang bank maupun obligasi, sehingga relatif aman dari tekanan kenaikan suku bunga.

Untuk mendukung operasional bisnisnya, perusahaan mengandalkan arus kas internal. Pada laporan keuangan September 2025, ACES masih memiliki posisi kas yang cukup besar sebanyak Rp1,81 triliun dengan arus kas operasional tetap positif senilai Rp471 miliar.

Dengan model bisnis ritel yang menghasilkan arus kas stabil, ACES dapat menjalankan ekspansi gerai tanpa ketergantungan tinggi pada pembiayaan utang.

3. Saham RALS

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), emiten department store ini juga termasuk perusahaan dengan neraca yang cukup konservatif.

RALS tercatat tidak memiliki utang bank maupun obligasi.

Pada laporan keuangan 30 September 2025, perusahaan memiliki kas dan setara kas sekitar Rp881,56 miliar.

Selain itu, kinerja operasionalnya juga tetap stabil dengan laba bersih mencapai Rp272,97 miliar pada periode yang sama.

Arus kas operasional yang positif membuat perusahaan mampu menjalankan operasional tanpa ketergantungan pada pembiayaan eksternal.

4. Saham MERK

PT Merck Tbk (MERK), perusahaan farmasi yang merupakan bagian dari grup global Merck ini juga memiliki struktur permodalan yang sangat konservatif.

MERK tidak memiliki utang bank maupun obligasi dalam struktur neracanya.

Per September 2025, perusahaan masih memiliki kas yang cukup untuk menopang operasional bisnisnya senilai Rp172 miliar. Menariknya, arus kas operasional masih ada Rp178 miliar, naik pesat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp34 milair.

Dengan struktur neraca yang minim utang, MERK relatif lebih tahan terhadap fluktuasi suku bunga.

5.Saham BAYU

PT Bayu Buana Tbk (BAYU), emiten yang bergerak di bisnis layanan travel ini juga termasuk perusahaan dengan struktur utang yang sangat rendah.

BAYU tidak memiliki utang bank maupun obligasi, dan justru memiliki posisi kas yang sangat kuat.

Pada September 2025, perusahaan masih mencatat kas dan setara kas lebih dari Rp600 miliar, melebihi market cap nya yang berada di Rp495 miliar.

Cash per share BAYU saat ini berada di Rp1600, sementara harga sahamnya per 17 Maret 2026 kemarin masih di Rp1.400 per lembar.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |