Petugas membersihkan saluran untuk air baku perusahaan air minum.(Dok.Istimewa)
AKIBAT kemarau, warga di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), mengalami krisis air bersih, karena aliran air yang berasal dari jaringan milik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Danum Taka PPU mati total.
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid kepada Media Indonesia, Jumat (21/8) membenarkan kondisi yang dialami oleh warga khusus di Kecamatan Penajam dan Kecamatan Babulu karena air baku kering dan menjadi kendala operasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) dua wilayah ini.
”Kami menginformasikan adanya gangguan layanan air bersih akibat penurunan debit air baku di Sungai Lawe-Lawe dan sumber Air Baku daerah Babulu. Penurunan debit tersebut terjadi akibat kondisi kemarau yang berdampak pada ketersediaan air baku,” sebutnya.
Akibat kendala ini, lanjutnya, maka berpotensi menjadi penyebab penurunan tekanan air serta keterlambatan waktu pengaliran di sejumlah wilayah pelayanan. Pengaturan distribusi air dilakukan secara bertahap menyesuaikan ketersediaan air baku.
Terdapat dua zona pelayanan yang terdampak, yakni zona Lawe-Lawe Petung dan Zona Lawe-Lawe Penajam. Pelanggan di kedua wilayah tersebut akan menerima distribusi air secara bergilir sesuai jadwal pengaturan. Sementara Babulu khusus di wilayah Gunung Intan.
“Kondisi tersebut juga dapat mempengaruhi kualitas, kuantitas, serta kontinuitas pendistribusian air kepada pelanggan. Sehingga kami mengimbau, agar masyarakat menggunakan air secara bijaksana dan menampung air secukupnya sebagai persediaan selama proses pengaturan distribusi berlangsung,” pintanya.
Untuk diketahui, ungkap Rasyid, gangguan layanan tersebut mulai diberlakukan sejak Kamis (20/8) kemarin. Pihaknya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Perusahaan memastikan akan terus berupaya mengoptimalkan pelayanan serta menyampaikan informasi terbaru apabila terdapat perubahan kondisi distribusi air.
“Selain itu, bagi pelanggan yang membutuhkan informasi maupun menyampaikan pengaduan dapat menghubungi layanan Perumda Air Minum Danum Taka di hotline 0811-5918-899,” ujarnya.
KETERSEDIAAN AIR BAKU
Ia menambahkan, untuk wilayah Penajam, ketersediaan air baku kini hanya tersisa sekitar 30% saja. Sedangkan di Kecamatan Sepaku dan Waru masih memiliki ketersediaan air baku. Sementara Babulu mulai menghadapi keterbatasan sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Rasyid membeberkan, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan ketersediaan air. Salah satunya petugas di lapangan mencari dan mengumpulkan sisa-sisa genangan air yang masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Air tersebut kemudian dialirkan dan dikumpulkan ke penampungan air baku untuk mendukung kebutuhan pelayanan air bersih.
Selain itu, katanya, mobil tangki juga dikerahkan untuk membantu mengangkut dan menyalurkan air ke tempat-tempat penampungan air baku. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga ketersediaan air bagi masyarakat di tengah kondisi kemarau ekstrem.
Untuk mempercepat penanganan, pemerintah juga telah membentuk satuan tugas (Satgas) bencana alam. Satgas tersebut nantinya bertugas menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan. Penyaluran air dilakukan berdasarkan permintaan dari pemerintah desa atau kelurahan yang wilayahnya mengalami kekurangan air.
“Bantuan air akan didistribusikan ke titik-titik yang telah ditentukan, seperti hidran umum maupun lokasi pengambilan air yang dapat dijangkau masyarakat,” katanya.
WILAYAH LAIN
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila mengatakan, selain wilayah Desa Karang Jinawi di Kecamatan Sepaku, krisis air juga terjadi di Penajam dan Kecamatan Babulu. Namun di wilayah Penajam belum ada permintaan distribusi air.
”Yang baru masuk permintaan supply air bersih yakni Kecamatan Sepaku di Desa Karang Jinawi untuk warga di 8 RT dan permintaan dari Desa Gunung Intan, Kecamatan Babulu,” katanya.
Ia menuturkan, upaya yang dilakukan Satgas adalah melakukan identifikasi sumber daya peralatan dan sumber sumber air yang bisa digerakkan pada saat ada permintaan bantuan air. Namun untuk wilayah Penajam hingga kini belum ada permintaan untuk pendistribusian air bersih.
Ketersediaan dan kesiapan armada truk tangki air kami nilai cukup. Jika masih dibutuhkan armada tambahan, kami bisa fungsikan truk tangki milik pemadam kebakaran, sepanjang tangki dibersihkan lebih dahulu sebelum menyuplai air untuk warga,” pungkas Nurlaila.(E-2)













































