Aksi Agresi Trump Belum Berakhir, Bersumpah Akan 'Ambil Alih' Kuba

13 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Aksi 'agresi' Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke negara lain belum berakhir.

Setelah menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, untuk dibawa ke persidangan di negaranya, berkolaborasi dengan Israel menyerang Iran sejak awal Ramadan atau pertengahan Februari lalu hingga saat ini, selanjutnya Trump menargetkan Kuba. Sebelumnya, Trump pun melakukan manuver untuk menjadikan Greenland sebagai bagian dari AS.

Dalam pernyataan terbarunya pada Senin (16/3) kemarin, Trump bersumpah untuk 'menaklukkan' Kuba ketika negara itu terperosok ke dalam kegelapan akibat pemadaman listrik total karena embargo minyak yang diberlakukan Washington.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah hampir tujuh dekade menentang Amerika Serikat, otoritas komunis Havana berada di bawah tekanan besar dari pemerintahan Trump yang bertekad untuk membuat sejarah.

"Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya selalu mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?" kata Trump seperti dikutip dari AFP.

"Saya yakin saya akan...mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Washington DC.

"Apakah saya akan membebaskannya, mengambilnya -- saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya, Anda ingin tahu yang sebenarnya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini."

Itu adalah salah satu ancaman paling eksplisit yang dikeluarkan Trump terhadap negara di kepulauan Karibia tersebut.

Pemadaman listrik besar-besaran

AFP mewartakan saat ini Kuba kembali menghadapi pemadaman listrik besar-besaran.

Pemadaman listrik secara nasional itu disampaikan Union Nacional Electrica de Cuba (UNE) dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa pekerjaan telah dimulai untuk memulihkan aliran listrik.

Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah tua berada dalam kondisi yang buruk.

Pemadaman listrik harian hingga 20 jam menjadi hal biasa di beberapa bagian pulau, yang kekurangan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik.

Semenjak AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Maduro dari Venezuela pada awal Januari lalu, perekonomian Kuba semakin terpukul karena Trump mempertahankan blokade minyak de facto.

Tidak ada minyak yang diimpor ke Kuba sejak 9 Januari, yang berdampak pada sektor energi sekaligus memaksa maskapai penerbangan untuk mengurangi penerbangan ke pulau itu. Hal itu menjadi sebuah pukulan bagi sektor pariwisata yang sangat penting.

Dalam upaya untuk mengurangi tekanan ekonomi -- dan memenuhi tuntutan AS -- seorang pejabat ekonomi senior di Kuba mengumumkan pada hari Senin bahwa para eksil sekarang dapat berinvestasi dan memiliki bisnis di tanah air mereka itu.

"Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS" dan "juga dengan warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan keturunan mereka," kata Oscar Perez-Oliva, yang menjabat sebagai menteri perdagangan luar negeri dan juga wakil perdana menteri, kepada NBC News.

Pemadaman listrik, serta kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya yang terjadi secara berkala, memicu frustrasi warga Kuba.

Akhir pekan lalu kantor Partai Komunis Kuba jadi sasaran demonstran yang berunjuk rasa sambil memukul panci dan wajan di malam hari. Kadang-kadang meneriakkan "Libertad," atau kebebasan.

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, lewat sebuah unggahan X mengakui "ketidakpuasan yang dirasakan rakyat kita karena pemadaman listrik yang berkepanjangan". Namun, dia mendesak rakyatnya tenang dan tak melakukan kekerasan apapun.

"Yang tidak akan pernah dapat dipahami, dibenarkan, atau diakui adalah kekerasan," katanya.

Pemerintah Kuba telah membatasi penjualan bensin dan beberapa layanan rumah sakit karena kekurangan bahan bakar. Selain itu, Diaz-Canel mengakui pekan lalu bahwa pemerintahnya telah mengadakan pembicaraan dengan AS.

Trump menuduh blokade bahan bakar tersebut sebagai respons terhadap "ancaman luar biasa" yang ditimbulkan Kuba terhadap Amerika Serikat.

Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Kuba "ingin membuat kesepakatan", yang bisa segera terwujud setelah pemerintahannya menyelesaikan perang melawan Iran.

"Saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

(afp/kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |