Mojtaba Khamenei.(Al Jazeera)
KEMATIAN Pemimpin Tertinggi Iran pada hari pertama perang sempat membangkitkan harapan Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa rezim yang mencengkeram negara itu sejak 1979 berada di ambang keruntuhan. Namun, empat bulan kemudian, saat Iran menggelar pemakaman kenegaraan bagi Ayatollah Ali Khamenei, prosesi tersebut justru menjadi bukti kelangsungan hidup Republik Islam tersebut.
Alih-alih runtuh, Iran kini menyaksikan kebangkitan generasi pemimpin baru yang lebih mapan dan bergaris keras. Dipimpin oleh putra sekaligus penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei--yang tetap bersembunyi sejak terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya--hierarki baru ini berusia lebih muda dan memiliki kendali yang lebih baik atas tuas kekuasaan negara.
Generasi Baru yang Lebih Taktis
Para pejabat keamanan dan pakar menilai kepemimpinan baru ini memetik pelajaran berharga dari perang AS di Irak dan Afghanistan. Mereka dianggap lebih mahir dalam menggunakan alat soft-power, termasuk diplomasi dan propaganda daring. Meski secara ekonomi dan industri mungkin melemah, Iran muncul sebagai kekuatan yang lebih berani dan percaya diri.
"Kita menghadapi Iran yang baru, lebih berani, dan percaya diri," ujar Raz Zimmt, kepala riset Iran di Institute for National Security Studies, Israel. Rezim ini dinilainya tetap kejam karena dilaporkan terus menjalankan kampanye eksekusi terhadap kritikus domestik sambil tetap melakukan serangan intermiten di Teluk Persia dan memperketat kendali atas Selat Hormuz.
Dominasi Militer dan Keamanan
Struktur kekuasaan baru ini didominasi oleh tokoh-tokoh yang menghabiskan masa formatif mereka di lembaga keamanan atau unit militer. Mereka ialah sosok-sosok yang bertanggung jawab atas penumpasan protes domestik serta mempersenjatai milisi proksi seperti Hizbullah dan Hamas. Beberapa nama kunci di antaranya:
- Mohammad Bagher Zolghadr: Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung, mantan komandan Garda Revolusi (IRGC) dengan hubungan mendalam ke Pasukan Quds.
- Ahmad Vahidi: Panglima baru Garda Revolusi yang dikenal mendukung penumpasan keras terhadap protes hak-hak perempuan tahun 2022.
- Mohsen Rezaei: Penasihat militer pemimpin tertinggi yang merupakan advokat gigih untuk eskalasi terhadap serangan AS dan Israel.
- Mohammad Bagher Ghalibaf: Ketua parlemen yang, meski sempat dianggap moderat oleh pemerintahan Trump, merupakan mantan komandan IRGC.
Sebaliknya, tokoh-tokoh berlatar belakang sipil seperti Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dilaporkan semakin terpinggirkan dan pengaruhnya berkurang dalam perombakan yang didorong oleh situasi perang ini.
Kegagalan Prediksi Regime Change
Konsolidasi kekuasaan yang cepat oleh kelompok loyalis ini membantah klaim Presiden Donald Trump bahwa perang menghasilkan perubahan rezim atau memberdayakan kelompok pragmatis. Sebaliknya, pendekatan keras Trump justru memperkuat narasi kelompok garis keras bahwa Iran sedang berada dalam perjuangan eksistensial melawan AS dan sekutunya.
Para pakar memperingatkan bahwa Mojtaba Khamenei dan lingkaran dalamnya akan menghadapi ujian berat saat perang benar-benar berakhir, terutama dalam membangun kembali ekonomi yang hancur. Namun, kesepakatan awal untuk mencairkan aset Iran senilai miliaran dolar oleh pemerintahan Trump dapat menjadi tali penyelamat bagi tim kepemimpinan baru ini.
Ujian di Pemakaman Kenegaraan
Pemakaman Ali Khamenei menjadi ujian kritis bagi kepercayaan diri rezim. Ketidakhadiran Mojtaba secara publik dapat ditafsirkan sebagai tanda kelemahan fisik atau ketidakmampuan memimpin. Namun, seorang diplomat Iran menyatakan kecil kemungkinan Mojtaba akan muncul karena kekhawatiran akan upaya pembunuhan oleh AS atau Israel.
Meskipun dalam persembunyian, Mojtaba diyakini tetap memegang keputusan strategis melalui perantara. Ia menetapkan batasan negosiasi dengan AS, termasuk menolak diskusi substantif mengenai program nuklir sebelum gencatan senjata permanen tercapai. Dengan generasi baru yang lebih memahami titik tekan Amerika, Iran kini merasa lebih percaya diri untuk mendikte persyaratan di kawasan. (Washington Post/I-2)








































