Analisis Fundamental Jadi Kunci Memahami Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang

4 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar valuta asing kembali menjadi sorotan setelah pergerakan mata uang utama menunjukkan dinamika yang tajam dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah ketidakpastian global, fluktuasi nilai tukar semakin menegaskan bahwa emosi jangka pendek dan momentum pasar sering kali mendominasi arah pergerakan. 

"Dalam jangka pendek, pasar adalah mesin pemungutan suara, tempat momentum dan emosi yang irasional berkuasa. Namun, dalam jangka panjang, pasar adalah mesin penimbang yang berupaya mencapai keseimbangan sempurna antara penawaran dan permintaan, antara keserakahan dan ketakutan," ujar Analis Elev8 Markets, Kar Yong Ang, dalam siaran persnya, Senin (6/7/2026).

Pernyataan ini menegaskan analisis fundamental lebih relevan untuk memahami arah pergerakan jangka panjang, meski trader harian lebih sering dipengaruhi sentimen dan momentum. Salah satu pendekatan klasik dalam menilai nilai tukar adalah purchasing power parity (PPP). Teori ini menyatakan bahwa harga keranjang barang yang identik seharusnya sama di berbagai negara, dengan nilai tukar sebagai mekanisme penyeimbang.

Kar Yong Ang menambahkan, PPP memberi titik awal untuk memahami apakah suatu mata uang murah atau mahal, meski dalam praktiknya banyak asumsi yang membuat teori ini kurang berguna secara langsung. Contoh yang populer adalah Big Mac Index, yang digunakan untuk menilai apakah suatu mata uang dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Selain PPP, Bank for International Settlements (BIS) memperkenalkan Exchange Rate Effective Index, yang mengukur nilai mata uang terhadap mitra dagang utama. Versi riilnya, yaitu Real Effective Exchange Rate (REER), turut memperhitungkan inflasi sehingga lebih mencerminkan daya saing.

"Peningkatan REER sering kali menandakan penguatan mata uang dalam arti nyata, meski bukan sinyal titik balik segera bagi trader," jelas Ang.

Di sisi lain, International Monetary Fund (IMF) juga secara rutin menilai nilai tukar global, meski hasilnya lebih relevan untuk horizon jangka panjang dibandingkan dengan keputusan trading harian. Namun, dalam praktik trading, faktor fundamental yang paling sering menjadi jembatan antara teori dan realitas adalah kebijakan moneter.

Suku bunga menjadi instrumen utama, meski dalam satu dekade terakhir banyak bank sentral menggunakan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing). "Cara paling berguna untuk memahami suku bunga adalah dengan membandingkannya di berbagai negara. Spread imbal hasil obligasi sering kali menjadi petunjuk arah pergerakan pasangan mata uang," kata Ang.

Misalnya, perbedaan suku bunga antara Amerika Serikat (AS) dan Australia dapat memengaruhi pasangan mata uang AUD/USD. Spread yang melebar biasanya mendorong penguatan dolar Australia, dan sebaliknya.

Dengan demikian, meski valuasi jangka panjang seperti PPP atau REER memberikan kerangka konseptual, trader tetap perlu fokus pada dinamika suku bunga dan momentum pasar. Analisis fundamental bukan sekadar teori, melainkan alat untuk memahami konteks di balik pergerakan harga harian.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |