Presiden AS Donald Trump.(Mandel NGAN/AFP)
PEMERINTAH Amerika Serikat memperingatkan Israel agar tidak menghambat implementasi rencana 20 poin rekonstruksi Jalur Gaza yang diinisiasi Presiden Donald Trump. Gedung Putih menegaskan Trump akan "sangat kecewa" apabila Israel mengingkari komitmen yang sebelumnya telah disepakati.
Peringatan itu disampaikan seorang pejabat senior AS dalam pengarahan kepada wartawan, beberapa saat setelah Trump mengumumkan, Kamis (30/7), bahwa Hamas menerima proposal pelucutan senjata yang diajukan Board of Peace, lembaga bentukan AS untuk mengawasi tata kelola Gaza pada masa transisi.
Pernyataan tersebut muncul setelah kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons dingin kabar kemajuan perundingan antara Hamas dan Board of Peace di Mesir. Pemerintah Israel menyatakan proposal pelucutan senjata belum memenuhi tuntutan Tel Aviv mengenai demiliterisasi penuh Gaza sebagai syarat penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Menanggapi sikap itu, pejabat senior AS menegaskan Washington hanya meminta Israel menjalankan kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.
"Kami tidak meminta Israel melakukan apa pun di luar rencana 20 poin yang sebelumnya telah mereka setujui. Karena itu kami sangat yakin mereka akan mematuhinya. Jika tidak, Presiden Trump akan sangat, sangat kecewa."
Pejabat tersebut juga menegaskan tujuan utama kesepakatan adalah mengakhiri perang dan memastikan seluruh sandera dapat dipulangkan.
"Kami hanya meminta mereka tetap berpegang pada kesepakatan awal yang berhasil memulangkan para sandera dan mengakhiri perang. Gaza telah menjadi duri terbesar bagi mereka selama bertahun-tahun. Dengan berbagai persoalan yang mereka hadapi saat ini, ini bukan isu yang ingin mereka eskalasi lagi."
Ia menambahkan pemerintah AS yakin Israel tetap akan menjadi mitra dalam menjalankan kesepakatan tersebut.
"Kami percaya mereka akan tetap menjadi mitra yang baik dalam proses ini dan mematuhi kesepakatan."
Menurut pejabat itu, Israel sebelumnya meragukan Hamas akan memenuhi komitmennya. Namun, Hamas dinilai telah menjalankan sebagian kewajibannya dengan memulangkan sandera dan jenazah yang disepakati.
"Israel tidak percaya kami bisa mencapai kesepakatan untuk membebaskan para sandera. Mereka juga tidak percaya kami bisa memulangkan jenazah. Mereka sangat skeptis Hamas akan melucuti senjata. Namun Hamas memang membuat kesepakatan dan menepatinya dengan memulangkan jenazah serta para sandera. Karena itu, niat kami juga memastikan Israel memenuhi komitmennya sehingga kami dapat menjadi penengah yang adil."
Pejabat AS itu juga mengkritik keberatan Israel terhadap keterlibatan Qatar dan Turki dalam Board of Peace. Menurutnya, kedua negara bersama Mesir memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan gencatan senjata di Gaza.
Sementara itu, seorang pejabat Board of Peace mengatakan persetujuan Hamas membuka masa negosiasi selama 14 hari untuk menyepakati jadwal implementasi setiap tahapan pelucutan senjata. Proses tersebut diperkirakan berlangsung antara 200 hingga 350 hari sebelum seluruh kerangka perjanjian dijalankan sepenuhnya. (Times of Israel/B-3)
















































