AS dan Arab Saudi Serang Proksi Iran di Irak

2 weeks ago 19
AS dan Arab Saudi Serang Proksi Iran di Irak Ilustrasi.(Magnific)

JET tempur dari Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan militer gabungan pada Selasa (28/7/2026) yang menargetkan pasukan proksi Iran di Irak. Langkah ini menandai keterlibatan langsung Riyadh dalam konflik yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.

Komando Pusat AS (Centcom) dalam suatu pernyataan menyebutkan bahwa kedua negara menggempur beberapa situs logistik dan senjata teroris di seluruh Irak timur. Serangan ini merupakan respons terhadap lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam beberapa hari terakhir.

Militer Arab Saudi mengeluarkan pernyataan singkat yang mengakui keterlibatan mereka dalam operasi tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran.

Sebelumnya pada hari yang sama, Centcom menyatakan bahwa pasukan AS di Timur Tengah berhasil mencegat beberapa rudal balistik yang diluncurkan oleh Iran. Pejabat militer menyebut insiden tersebut sebagai upaya serangan mendadak terhadap personel Amerika di kawasan itu. Meskipun lokasi pencegatan tidak diungkapkan, pihak militer memastikan operasi tersebut berhasil.

Eskalasi Konflik dan Dampak Diplomatik

Rangkaian perkembangan ini mengancam akan merusak jeda permusuhan yang sebelumnya diupayakan oleh Presiden Donald Trump untuk memajukan negosiasi perdamaian yang terhenti. Hal ini juga memberi sinyal potensi perluasan perang yang berlangsung selama lima bulan, meskipun belum jelas apakah serangan rudal Iran dan operasi gabungan AS-Saudi tersebut berkaitan langsung.

Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai peran Saudi dalam serangan ini sebagai langkah besar bagi Riyadh. "Mereka telah kehilangan kesabaran dan mengambil langkah yang selama ini enggan mereka ambil, yaitu menyerang organisasi Arab lainnya secara langsung," ujar Cancian.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan ini bisa menjadi sinyal bahwa Saudi bersedia mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer di wilayah mereka, baik untuk serangan langsung ke Iran maupun operasi di Selat Hormuz.

Ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah

Meskipun dilakukan putaran negosiasi berulang kali, Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan mengenai akses ke Selat Hormuz, jalur air vital bagi pengiriman minyak Timur Tengah. Pekan lalu, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade terhadap pengiriman minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Eskalasi Houthi ini memperburuk gejolak ekonomi yang disebabkan oleh penutupan selat oleh Iran. Menurut analisis Institute for the Study of War, Arab Saudi baru-baru ini juga menyerang situs-situs Houthi di Yaman dengan harapan dapat melemahkan kemampuan kelompok tersebut dalam memberikan tekanan di kawasan.

Anna Jacobs, peneliti dari Arab Gulf States Institute, berpendapat bahwa keterlibatan Riyadh bertujuan memulihkan pencegahan. Namun, ia menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi inti dari strategi Saudi dalam mengelola keamanan regional. "Saya melihat serangan Saudi di Yaman dan Irak masih relatif terkendali, lebih sebagai pengiriman pesan kepada Iran dan mitra bersenjatanya," kata Jacobs.

Catatan Korban Konflik

Konflik itu kembali memanas setelah Trump mengumumkan dimulai perang dengan Iran pada 28 Februari, yang sempat dinyatakan berakhir pada Mei menyusul gencatan senjata. Namun, permusuhan kembali pecah sepenuhnya pada 7 Juli.

Hingga saat ini, tercatat 18 anggota layanan Amerika Serikat tewas dan lebih dari 600 lain luka-luka dalam konflik tersebut. Empat tentara AS gugur bulan ini sejak pertempuran kembali berlanjut, termasuk tiga personel yang tewas pada 17 Juli akibat serangan rudal balistik Iran di sebuah pangkalan di Yordania. (The Washington Post/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |