AS Miliki Kurang dari 830 Rudal Patriot dan 280 THAAD, Lama Produksi?

5 hours ago 7
AS Miliki Kurang dari 830 Rudal Patriot dan 280 THAAD, Lama Produksi? Ilustrasi.(Magnific)

UANG memang dapat memberikan otorisasi untuk pengadaan lebih banyak rudal. Namun dana tersebut tidak bisa secara instan menciptakan sistem propulsi, komponen khusus, dan tenaga kerja produksi terlatih.

Ketegangan inilah yang menjadi inti dari estimasi terbaru yang menyebutkan bahwa saat ini hanya tersisa kurang dari 830 pencegat Patriot dan kurang dari 280 pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dalam inventaris Amerika Serikat. Berdasarkan tingkat produksi saat ini, upaya untuk membangun kembali kedua inventaris tersebut ke level sebelumnya diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun.

Skala Masalah Industri Pertahanan

Laporan dari Council on Foreign Relations bertajuk Out of Ammo: A Two-Year Sprint to Rebuild the American Arsenal and Deter China yang dirilis pada 20 Agustus, menyoroti skala masalah industri ini. Meskipun angka inventaris tersebut merupakan estimasi dan bukan hitungan resmi Pentagon yang dikonfirmasi publik, data ini memberikan gambaran kritis: lebih dari 1.500 pencegat Patriot dilaporkan telah ditembakkan, sementara sekitar 40% dari 452 pencegat THAAD yang tersedia pada awal konflik dengan Iran telah digunakan.

Output produksi saat ini dinilai belum mampu menutup celah tersebut dengan cepat. Menurut penilaian tersebut:

  • Raytheon: Saat ini memproduksi sekitar 600 pencegat Patriot per tahun. Dengan laju ini, pemulihan inventaris Patriot membutuhkan waktu sekitar tiga tahun.
  • Lockheed Martin: Memproduksi sekitar 96 pencegat THAAD per tahun. Pemulihan inventaris THAAD diperkirakan memakan waktu sekitar dua tahun.

Garis waktu tersebut menunjukkan penyebab angka produksi tahunan tidak sama dengan inventaris yang tersedia segera. Rudal harus melewati manufaktur komponen, perakitan akhir, pengujian, dan penerimaan pemerintah sebelum pengiriman.

Selain itu, produksi juga harus mendukung komitmen di luar inventaris AS. Permintaan dari sekutu dan mitra turut bersaing memperebutkan output di tengah pasokan yang terbatas.

Hambatan Rantai Pasok yang Kompleks

Kelangkaan ini terkonsentrasi pada pencegat canggih dan senjata stand-off, bukan pada semua amunisi konvensional. Senjata biasa seperti mortir, peluru artileri, dan bom gravitasi tidak mengalami penipisan yang sama. Patriot dan THAAD menghadirkan masalah manufaktur yang lebih sulit karena merupakan sistem pemandu canggih yang dibangun melalui jaringan pemasok yang saling bergantung.

Dalam jaringan seperti ini, langkah produksi yang paling sulit ditingkatkan (least scalable) akan menentukan output dari seluruh rudal. Memperluas lini perakitan memiliki nilai terbatas jika perangkat keras pengapian, bagian struktural, atau komponen khusus lainnya tetap tidak tersedia pada tingkat yang diperlukan.

Kesepakatan Ekspansi bukan Berarti Pengiriman Instan

Pentagon mengumumkan kerangka kesepakatan yang bertujuan melipatgandakan kapasitas produksi Patriot dan meningkatkan kapasitas THAAD hingga empat kali lipat. Upaya ini mencakup kerja langsung dengan pemasok komponen, termasuk rencana sumber kedua untuk motor roket padat Patriot.

Namun, kesepakatan jangka panjang ini adalah tujuan produksi, bukan konfirmasi bahwa pabrik mencapai tingkat tersebut. Sebagai contoh, L3Harris telah menandatangani kerangka kesepakatan untuk ekspansi produksi propulsi THAAD selama beberapa tahun. Perusahaan menyatakan bahwa kontrak yang diantisipasi akan berlangsung selama tujuh tahun dan diharapkan selesai pada akhir 2026.

Kendala serupa juga muncul pada produksi Tomahawk. Inventaris AS dilaporkan menurun sekitar sepertiga dari total sekitar 3.000 rudal. Output terbaru tidak lebih dari 200 unit per tahun, dengan waktu tunggu (lead time) untuk rudal yang baru dipesan mencapai 34 bulan. Inventaris Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile juga digambarkan hampir habis.

Pendanaan dan Ujian Manufaktur

Pentagon meminta kontraktor untuk mempercepat jadwal pengiriman. Usulan tambahan anggaran fiskal 2026 mencakup US$67,1 miliar untuk departemen tersebut, dengan US$40 miliar (sekitar Rp620 triliun) diminta khusus untuk memperluas lini produksi dan mempercepat pengadaan amunisi permintaan tinggi.

Meskipun pendanaan tambahan dapat mendukung pesanan yang lebih besar dan peralatan manufaktur baru, hal itu tidak dapat menghapus waktu tunggu yang ada atau secara instan mengkualifikasi sumber baru untuk perangkat keras rudal yang kritis terhadap keselamatan. Ukuran praktis dari kemajuan ini nanti merupakan jumlah pencegat yang berhasil dikirim, bukan sekadar pengumuman belanja atau rencana kapasitas pabrik. (Aerospace and Mechanical Insider/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |