Bahlil: Masih Ada 12,6 GW Pembangkit Listrik di Indonesia Gunakan Diesel

6 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, GILIMANUK -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan sebanyak 12,6 gigawatt (GW) pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan BBM diesel atau solar. Karena itu, pemerintah mempercepat program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp).

“Total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar,” ucap Bahlil dalam acara Peluncuran dan Peletakan Batu Pertama Program PLTS 100 GWp yang berlangsung di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8/2026).

Bahlil menyampaikan, untuk menghasilkan listrik sebesar 12,6 GW dengan menggunakan solar, dibutuhkan sekitar 230 ribu hingga 250 ribu barel per hari. Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah mempercepat program PLTS 100 GWp untuk menekan konsumsi solar yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

“Kalau ini mampu kita lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM kita, khususnya jenis solar, akan turun dan semuanya akan memakai energi nasional,” kata Bahlil.

Khusus untuk Bali, lanjut dia, penggunaan PLTS berkapasitas 1 GW dapat membuat PLN melakukan efisiensi konsumsi solar sebesar 0,5 juta hingga 0,6 juta kiloliter.

“Jadi, tidak heran kemudian kalau ini kami lakukan di Bali, Pak. Karena kampanyenya adalah green energy (energi hijau),” ujar Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program strategis PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Gilimanuk, Jembrana, Bali. Peluncuran secara langsung di Gilimanuk, Bali, terhubung secara daring dengan tiga lokasi lainnya, yakni PLTS Terapung Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah, PLTS Desa Sembur di Batam, Kepulauan Riau, serta PLTS Pulau Rengit di Bangka Belitung.

PLTS dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (battery energy storage system/BESS) Monumen Operasi Gilimanuk merupakan bagian dari Program Fat Burning Bali, yang ditujukan untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) dengan energi surya.

Adapun kapasitas PLTS di Bali sebesar 300 megawatt peak (MWp) dan kapasitas BESS sebesar 1.000 megawatt hour (MWh), dengan kebutuhan lahan sekitar 321 hektare.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |