Modern, Jiwa yang Bergerak

2 hours ago 1

Oleh: Nur Hadi Ihsan, Dosen Universitas Darussalam Gontor

"Modern, berarti menjaman; menjaman berarti tak diam, tetap mengawaskan kehendak zaman, tetap memperhatikan kehendak masa. Modern, adalah cara, daya upaya untuk melaksanakan lekas berhasilnya sesuatu rancangan, untuk memajukan sesuatu idaman dengan mudah dan gampang, singkat, lekas berubah, memuaskan. Modern berarti aktif, bukan pasif yang tak ambil pusing kiri dan kanan, tak mengindahkan panggilan zaman; dan berarti selalu maju ke muka selangkah demi selangkah."

—Diktat Pekan Perkenalan Pondok Modern Darussalam Gontor, hlm. 109.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kata "Modern" dalam nama Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar identitas sebuah lembaga pendidikan, melainkan pernyataan tentang arah perjuangan. Ia menegaskan bahwa pendidikan Islam harus mampu berdialog dengan zamannya tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasinya. Karena itu, memahami Gontor tidak cukup dengan melihat sistem pendidikannya semata, tetapi harus pula memahami ruh yang terkandung dalam nama yang disandangnya.

Menariknya, sebutan "Modern" bukan mula-mula diberikan oleh para pendiri Pondok. Nama itu muncul pada masa-masa awal berdirinya, setelah seorang pendeta berkunjung dan menyaksikan kehidupan Pondok yang jauh berbeda dari kebanyakan pesantren pada masanya: santri berdasi dan berjas, hidup disiplin, menguasai bahasa asing, aktif dalam olahraga, kesenian, keterampilan, kepanduan, organisasi pelajar, dan latihan pidato. Seluruh kehidupan Pondok tampak hidup, dinamis, dan mendidik. Dari kekaguman itulah lahir sebutan "Modern."

Namun para pendiri Pondok tidak berhenti pada kesan lahiriah tersebut. Mereka mengisi kata "Modern" dengan makna yang jauh lebih dalam. Modern bukan sekadar cara berpakaian atau bentuk pembaruan yang mengikuti arus zaman. Modern adalah jiwa yang terus bergerak, terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus mengabdi. Dari sinilah sebuah sebutan berubah menjadi falsafah, lalu menjelma budaya hidup yang membentuk seluruh sistem pendidikan Gontor.

Modern Adalah Jiwa

Diktat Pekan Perkenalan menjelaskan bahwa modern berarti "menjaman." Menjaman bukan berarti larut mengikuti perubahan, melainkan memiliki kepekaan membaca zaman, memahami keresahannya, lalu menjawabnya dengan ilmu, hikmah, dan amal—bukan tunduk kepadanya.

Muhammad Iqbal memandang kehidupan sebagai gerak yang terus menyempurnakan diri; Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa kemajuan hanya akan bertahan bila memiliki ruh yang menjaga arah perjalanannya. Gontor memadukan keduanya: modernitas di sini tidak dibangun di atas kekaguman kepada perubahan, tetapi di atas keyakinan bahwa setiap perubahan harus berpijak pada iman, adab, dan cita-cita membangun peradaban Islam.

Modern Adalah Gerak

Dalam Diktat itu ditegaskan bahwa "Modern berarti aktif, bukan pasif." Kalimat ini mengajarkan bahwa hidup adalah gerak, ikhtiar, dan tanggung jawab. Insan Gontor tidak menunggu perubahan datang, melainkan mempersiapkan diri untuk menjadi pelaku perubahan yang membawa manfaat. Aktif bukan sekadar sibuk, melainkan bergerak dengan tujuan yang benar dan cara yang benar.

Dalam perspektif tasawuf, gerak itu adalah mujahadah; perjuangan tanpa henti melawan kelemahan diri. Gerak harus dipandu keikhlasan agar tak berubah menjadi ambisi, dan keikhlasan harus diwujudkan dalam amal agar tak menjadi alasan untuk berdiam diri. Karena itu Gontor menempa pribadi yang bekerja keras tanpa kehilangan ketulusan, serta mengabdi tanpa mengharap balasan.

Semangat itu dirumuskan dalam falsafah Pondok: 

المحافظة على القيم والتغيير إلى الكمال

"Memelihara nilai-nilai, dan terus melakukan perubahan menuju kesempurnaan."

Inilah inti modernitas Gontor. Nilai-nilai Islam tetap menjadi fondasi yang kokoh, sedangkan cara mewujudkannya harus terus disempurnakan. Nilai menjadi akar yang menjaga identitas, perubahan menjadi ikhtiar yang menghidupkan, dan al-kamal menjadi cakrawala yang selalu dituju; tak pernah selesai dikejar, sebab justru di situlah letak geraknya yang abadi.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |