BMKG Ingatkan Dampak El Nino Kuat di Jawa Tengah, Waspada Kekeringan Hidrologis

2 weeks ago 4
BMKG Ingatkan Dampak El Nino Kuat di Jawa Tengah, Waspada Kekeringan Hidrologis Lahan warga mengalami kekeringan di musim kemarau.(Dok. MI)

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat untuk mewaspadai peningkatan dampak kekeringan di wilayah Jawa Tengah. Hal ini dipicu oleh menguatnya fenomena El Nino yang memperparah musim kemarau 2026, sehingga mengancam sektor pertanian, ketersediaan sumber daya air, hingga stabilitas sosial ekonomi.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa musim kemarau tahunan yang biasanya berlangsung dari April hingga Oktober kini mengalami anomali akibat El Nino yang telah mencapai kategori kuat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 di Cilacap, Rabu (29/7).

"Pada awalnya kami memprediksi El Nino berada pada kategori moderat, tetapi sekarang indeksnya sudah sekitar dua sehingga masuk kategori kuat. Dampaknya adalah meningkatnya potensi kekeringan," ujar Guswanto.

Tahapan Kekeringan yang Perlu Diwaspadai

Guswanto memaparkan bahwa kekeringan berkembang secara bertahap melalui tiga fase utama:

  • Kekeringan Meteorologis: Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer yang menyebabkan intensitas hujan semakin jarang.
  • Kekeringan Pertanian: Kondisi di mana kelembapan tanah tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman.
  • Kekeringan Hidrologis: Penurunan pasokan air secara drastis di sungai, waduk, embung, hingga jaringan irigasi.

"Jika pasokan air di embung, danau, dan irigasi sudah tidak ada lagi, itu sudah masuk kekeringan hidrologis. Saat ini arahnya mulai menuju ke sana," tegasnya. Dampak paling krusial yang harus diantisipasi adalah risiko gagal panen dan berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Pengaruh Angin Muson Timur dan Fenomena Embun Es

Saat ini, sejumlah wilayah di Pulau Jawa dilaporkan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama puluhan hari. Kondisi ini disebabkan oleh dominasi angin muson timur yang bertiup dari Australia menuju Asia melewati Indonesia. Angin yang bersifat kering ini menghambat pembentukan awan hujan dan memicu suhu udara yang lebih rendah pada malam hingga pagi hari.

Fenomena ini juga berdampak pada munculnya embun es atau "embun upas" di kawasan dataran tinggi seperti Dieng, yang biasanya terjadi pada periode Juni hingga Agustus.

Tantangan Modifikasi Cuaca

Terkait upaya mitigasi, BMKG menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu solusi. Namun, Guswanto menekankan bahwa teknologi ini sangat bergantung pada keberadaan awan hujan yang potensial.

Berdasarkan pantauan radar cuaca BMKG di Jeruklegi, Cilacap, potensi awan saat ini didominasi oleh awan lapisan tinggi yang belum mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca. "Kalau awan hujannya tidak ada, modifikasi cuaca juga sulit dilakukan karena prinsipnya hanya mempercepat proses kondensasi pada awan yang memang berpotensi menghasilkan hujan," jelasnya.

BMKG terus bersinergi dengan Komisi V DPR RI, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, dan pemerintah daerah untuk memperkuat layanan informasi cuaca serta literasi masyarakat melalui Sekolah Lapang Iklim. Sinergi lintas sektoral diharapkan mampu meminimalisir dampak kekeringan terhadap operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan kebutuhan irigasi nasional. (Ant/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |