BNPB Catat 42 Bencana Kebakaran Hutan dan Kekeringan dalam Sehari

1 week ago 5
BNPB Catat 42 Bencana Kebakaran Hutan dan Kekeringan dalam Sehari Petugas menyemprotkan air ke semak-semak yang terbakar.(Dok.BNPB)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lonjakan bencana di penghujung Juli. Dalam 24 jam terakhir, setidaknya 42 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dengan 36 di antaranya berdampak signifikan. 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan mendominasi daftar kejadian, menandai puncak musim kemarau yang tengah melanda sebagian besar wilayah Nusantara.

Dua titik karhutla berhasil dipadamkan di Sulawesi Selatan dan Papua Barat Daya, sementara kekeringan parah memaksa ribuan warga di Gorontalo bergantung pada bantuan air bersih.

Kebakaran lahan seluas 2,81 hektare melanda Dusun Kurui, Desa Wewangriu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (30/7). Peristiwa berawal ketika seorang warga membakar semak belukar di lahannya untuk membersihkan area dan mengusir hama. 

Namun, cuaca kering dan tiupan angin membuat api dengan cepat merambat tak terkendali. "Api membesar dan merambat ke bagian lain dari lahan sehingga tidak dapat dikendalikan oleh pemilik," ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Jumat (31/7).

Tim gabungan yang diterjunkan berhasil menaklukkan api dan menyatakan lokasi aman. Ini merupakan kejadian karhutla kedua di Luwu Timur dalam periode tersebut.

Sementara itu, di Kota Sorong, Papua Barat Daya, kebakaran menghanguskan sekitar 2 hektare lahan di kawasan TPU Covid, Kelurahan Malasilen, Kecamatan Sorong Utara. Kebakaran yang terjadi pada Kamis (30/7) pukul 15.30 WIT itu diduga dipicu tindakan pembakaran oleh orang tak bertanggung jawab, diperparah cuaca panas dan angin kencang.

Kebakaran sempat menimbulkan kepanikan warga dan membakar sejumlah makam di pemakaman umum tersebut. Petugas gabungan berhasil memadamkan api setelah berjibaku beberapa jam.

KEKERINGAN DI GORONTALO
Bencana kekeringan melanda dua kabupaten di Provinsi Gorontalo dengan dampak yang cukup masif. Di Kabupaten Gorontalo, kekeringan berdampak pada 1.060 kepala keluarga atau 2.194 jiwa. 

BPBD setempat bersama pemerintah provinsi masih melakukan pendataan dan asesmen, serta mengidentifikasi kebutuhan mendesak warga akan air bersih.

Sementara di Kabupaten Bone Bolango, 453 kepala keluarga atau 1.192 jiwa terdampak kekeringan. BPBD Kabupaten Bone Bolango telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 20.000 liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

TINGKATKAN KEWASPADAAN
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan kekeringan yang masih mengancam sejumlah wilayah. 

Masyarakat dilarang membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melaporkan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

"Di wilayah yang mengalami kekeringan, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air bersih, memanfaatkan sumber air yang tersedia secara bijak, serta mengikuti arahan pemerintah daerah terkait distribusi bantuan air bersih," tegas Abdul Muhari.

Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG untuk 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada periode musim kemarau dengan potensi cuaca cerah hingga cerah berawan. 

Meski hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi secara lokal, kondisi kering di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sebagian Jawa tetap meningkatkan risiko kebakaran dan meluasnya dampak kekeringan.

BNPB mengajak seluruh pemangku kepentingan termasuk TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan dunia usaha, untuk memperkuat upaya pencegahan melalui patroli terpadu, deteksi dini titik panas, penyediaan sumber air untuk pemadaman, percepatan distribusi air bersih, serta memastikan kesiapan personel dan peralatan guna meminimalkan dampak bencana. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |