Budaya Siaga Bencana Kota Bandung Penting untuk Hadapi Ancaman Sesar Lembang

1 week ago 4
Budaya Siaga Bencana Kota Bandung Penting untuk Hadapi Ancaman Sesar Lembang Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh dipandang sebagai persoalan teknis semata, tetapi harus menjadi budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.(Dok. Diskominfo Kota Bandung)

KESIAPSIAGAAN menghadapi bencana di Kota Bandung kini diarahkan untuk melampaui batas teknis dan prosedural. Pemerintah Kota Bandung menekankan bahwa mitigasi harus bertransformasi menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini menjadi krusial mengingat posisi geografis Kota Bandung yang memiliki kerentanan tinggi, terutama akibat aktivitas Sesar Lembang.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, dampak bencana di Kota Bandung dapat berimplikasi luas. Oleh karena itu, kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini melalui pendekatan kultural.

"Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus berada dalam konteks kultural atau pembudayaan. Jangan dianggap sekadar persoalan teknis, tetapi harus menjadi kebiasaan masyarakat," ujar Farhan saat mengukuhkan Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Coblong di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Jumat (31/7) malam.

Membangun Budaya "Warga Jaga Warga"

Menurut Farhan, pembudayaan siaga bencana berarti masyarakat secara organik terbiasa dengan protokol keselamatan. Hal ini mencakup pemahaman otomatis mengenai titik evakuasi, langkah-langkah penyelamatan mandiri, hingga kesadaran untuk saling membantu tanpa menunggu instruksi formal.

Nilai gotong royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia dipandang sebagai fondasi utama resiliensi kota. Farhan mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada pola pikir individualistis atau hanya mengandalkan pemerintah sepenuhnya saat terjadi keadaan darurat.

"Menjaga Kota Bandung bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Gotong royong adalah budaya sekaligus kepribadian bangsa," tambahnya.

Ia juga memperkenalkan semangat "Warga Jaga Warga" sebagai komitmen kolektif untuk saling melindungi. Dalam situasi darurat, Farhan mengimbau masyarakat untuk lebih mengedepankan aksi nyata membantu sesama dibandingkan sekadar mendokumentasikan kejadian untuk media sosial.

Ancaman Sesar Lembang dan Peran KSB

Urgensi penguatan kesiapsiagaan ini didasarkan pada data kerentanan wilayah. Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa, mengungkapkan bahwa berdasarkan pemetaan, sekitar 62 persen wilayah kecamatan di Kota Bandung berpotensi terdampak aktivitas Sesar Lembang.

Data Kerentanan Bencana Kota Bandung:

  • Cakupan Risiko: 20 dari 30 kecamatan (62%) berpotensi terdampak Sesar Lembang.
  • Dasar Hukum: Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
  • Target: Mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis masyarakat.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Bandung terus memperluas pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB). Hingga saat ini, telah terbentuk lima KSB yang tersebar di titik-titik strategis:

  1. Kecamatan Mandalajati
  2. Kecamatan Ujungberung
  3. Kecamatan Cidadap
  4. Kecamatan Sukasari
  5. Kecamatan Coblong (Baru dikukuhkan)

Infrastruktur Sosial di Kampung Siaga Bencana

KSB bukan sekadar organisasi formal, melainkan sistem yang dilengkapi dengan sarana pendukung penanganan bencana di tingkat akar rumput. Yorisa menjelaskan bahwa setiap KSB memiliki komponen utama sebagai berikut:

Komponen KSB Fungsi Utama
Gardu Sosial Pusat informasi dan koordinasi kebencanaan tingkat lokal.
Lumbung Sosial Tempat penyimpanan logistik darurat untuk kebutuhan warga.
Personel Tagana Tenaga terlatih (Taruna Siaga Bencana) yang siap memobilisasi warga.
Pilar Sosial Kolaborasi RT, RW, Posyandu, PKK, Karang Taruna, dan LPM.

Keberadaan KSB diharapkan mampu melembagakan semangat gotong royong melalui sistem yang terencana, terstruktur, dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, Kota Bandung diharapkan memiliki daya lenting (resiliensi) yang kuat dalam menghadapi potensi bencana di masa depan. (AN/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |