Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, hingga ketidakpastian pasar kerja membuat generasi muda mengubah cara mereka bertahan hidup.
Survei Deloitte dalam The Deloitte 2023 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa tingkat stres dan burnout pada Gen Z dan milenial berada di level tinggi.
Kondisi tersebut membuat para Gen Z dan Milenial semakin pragmatis dalam mengelola keuangan. Generasi ini mulai mengandalkan berbagai sumber pendapatan, membangun dana darurat, hingga aktif menggunakan layanan perbankan digital dan aplikasi investasi. Berikut langkah-langkah yang bisa diambil anak muda di Indonesia untuk bertahan hidup.
Side Hustle Jadi "Napas Tambahan" Anak Muda
Laporan Labor Market Brief LPEM FEB UI (Agustus 2024) mencatat sekitar 19,3 juta pekerja Indonesia memiliki pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama karena satu gaji saja semakin sulit mencukupi kebutuhan hidup.
Upah minimum di 32 dari 38 provinsi bahkan masih berada di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL), termasuk di Jakarta. Kesenjangan terdalam tercatat di Yogyakarta, Bali, hingga Jawa Barat. Mayoritas pekerja dengan penghasilan tambahan (sekitar 11,5 juta orang) tinggal di wilayah perkotaan, tempat tekanan biaya hidup paling terasa.
Di tengah mahalnya biaya hidup, anak muda semakin kreatif mencari pekerjaan sampingan yang bermodal kecil, fleksibel, dan berpotensi berkembang menjadi sumber pemasukan lebih besar.
Perkembangan ekonomi digital ikut membuka peluang baru, mulai dari freelance desain dan editing, jualan online, affiliator, hingga kerja jarak jauh (remote work) dengan bayaran mata uang asing seperti dolar AS.
Bagi banyak anak muda, kemampuan memanfaatkan teknologi dan membangun banyak sumber pendapatan kini menjadi salah satu "survival skill" paling penting di tengah ekonomi yang semakin tidak pasti.
Nabung & Investasi Jadi "Safety Belt" Finansial
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, pentingnya menumbuhkan kesadaran memiliki tabungan dan investasi sebagai "sabuk pengaman" finansial. Instrumen berisiko rendah seperti saham blue chip, obligasi, hingga emas kembali dilirik karena dianggap lebih stabil untuk jangka panjang.
Obligasi misalnya sering dianggap sebagai instrumen "pensiunan", tetapi di tengah pasar yang fluktuatif, pemilihan instrumen yang lebih aman dan konsisten akan lebih rasional.
Namun di tengah pelemahan rupiah dan merosotnya IHSG, kebiasaan menabung di bank, mengoleksi emas, hingga menyimpan valuta asing seperti dolar AS (USD) atau dolar Singapura (SGD) juga masih dinilai relevan sebagai cara menjaga nilai aset dan kestabilan finansial.
Emas menjadi salah satu pilihan favorit karena dinilai lebih mudah diakses dan relatif tahan terhadap gejolak ekonomi. Mulai dari menabung emas digital, membeli emas 1 gram setiap bulan, hingga memanfaatkan skema cicilan emas kini menjadi cara yang dapat dipilih anak muda untuk mulai membangun aset.
Sementara itu, untuk menjaga tabungan di bank tetap aman, pemisahan rekening tabungan dari akun konsumsi harian menjadi langkah cerdas agar uang tidak mudah terpakai. Dalam konteks ini, bank digital dapat dimanfaatkan karena biasanya memiliki biaya administrasi yang lebih rendah atau bahkan tanpa potongan bulanan untuk memaksimalkan tabungan.
Bisnis Bisa Jadi Jalan Bertahan, Asal Paham Pasarnya
Di tengah sulitnya mencari kerja dan kondisi pasar saham yang masih penuh risiko, membangun bisnis bisa menjadi alternatif untuk bertahan sekaligus menambah penghasilan.
Namun, di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat, anak muda dituntut lebih peka membaca pasar sebelum memulai usaha.
Data Susenas BPS 2025 yang diolah Mandiri Institute menunjukkan kelompok terbesar masyarakat Indonesia saat ini berasal dari aspiring middle class, atau kelompok masyarakat yang secara ekonomi berada di antara kelas bawah (rentan miskin) dan kelas menengah mapan.
Kelompok ini cenderung lebih sensitif terhadap harga dan mencari produk dengan nilai terbaik (value for money). Sementara itu, kelas menengah justru terus menyusut.
Sementara itu, upper class atau masyarakat dengan ekonomi atas masih relatif stagnan di level 0,4% dengan jumlah sekitar 1,15 juta orang. Meskipun sedikit, kelompok ini memiliki willingness to pay yang tinggi.
Jika dilihat lebih dalam lagi, terdapat perubahan struktur konsumsi masyarakat Indonesia dalam rentang tahun 2019-2025 yang menunjukan terjadinya polarisasi ekonomi.
Keadaan ini memberi sinyal bahwa segmen premium masih tumbuh karena orang kaya tetap belanja, segmen bawah besar karena banyak masyarakat fokus bertahan hidup, tapi kelas menengah justru mulai turun daya belinya.
Di sinilah polarisasi ekonomi terlihat jelas. Maka jangan heran ketika restoran mahal, konser, luxury brand, dan premium coffee shop tetap laris, tetapi bisnis yang menyasar kelas menengah justru mengalami pelemahan.
Konsumsi nasional masih relatif resilien dengan penopang utamanya adalah pertumbuhan dari segmen premium dan kelompok masyarakat yang mencari produk paling ekonomis.
Sementara itu, jika dilihat berdasarkan wilayah, pertumbuhan konsumsi segmen premium tertinggi justru dipimpin oleh Sulawesi Tenggara yang kemudian disusul oleh DKI Jakarta.
Data-data nasional tersebut dapat memudahkan pembuatan peta bisnis sebelum mengerucutkan lagi jenis bisnis dan strategi bisnis yang akan dijalankan. Selain itu, jangan lupa untuk memaksimalkan penggunaan teknologi dan sosial media.
Untuk urusan pembiayaan, tabungan pribadi kini bukan lagi satu-satunya sumber modal usaha. Akses pendanaan semakin terbuka melalui pinjaman UMKM perbankan, program Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga layanan pendanaan digital seperti peer-to-peer lending.
Meski demikian, penggunaan utang untuk membangun bisnis tetap perlu diperhitungkan secara realistis agar beban cicilan tidak melebihi kemampuan usaha dalam menghasilkan pemasukan.
Dengan analisis yang tajam dan eksekusi yang efektif, berbisnis justru bisa menjadi sumber pemasukan tambahan.
(dag/dag)
Addsource on Google

14 hours ago
1

















































