Kapal Puskesmas Kampung Laut(MI/LILIK DARMAWAN)
TENGAH malam, suara mesin kapal compreng berukuran sekitar 1,5 meter x 9 meter memecah keheningan Dermaga Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kapal yang difungsikan sebagai ambulans air itu mengangkut seorang ibu hamil yang sudah bersiap melahirkan.
Penumpangnya perempuan bernama Wars. Waktu tiba di Puskesmas Kampung Laut sudah dalam kondisi pembukaan empat pada kehamilan anak keempatnya. Bidan Rosi Eka Murprastiwi yang telah mengenal pasien tersebut tak ingin mengambil risiko. Ia segera meminta ambulans air membawa Warsi menuju rumah sakit di Kota Cilacap.
Seluruh peralatan kegawatdaruratan ikut dibawa. Sebab perjalanan melintasi perairan Segara Anakan dari Klaces menuju Dermaga Sleko, Cilacap membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam. Di tengah gelapnya malam, kapal melaju membelah perairan yang diapit rimbunnya hutan mangrove. Penerangan hanya mengandalkan sorot lampu headlamp.

Namun, sekitar 30 menit perjalanan, persalinan tak lagi bisa ditunda. Warsi melahirkan di atas kapal ambulans air. Bayi dan ibunya selamat. Meski demikian, perjalanan menuju rumah sakit tetap dilanjutkan.
"Ibunya tetap membutuhkan penanganan lebih lanjut akibat tekanan darah yang sangat tinggi. Sesampainya di rumah sakit, ternyata kondisinya jauh lebih berat dari yang kami perkirakan. Tim medis menemukan perdarahan hebat yang sebelumnya tidak terlihat selama perjalanan. Bahkan pasien hampir mengalami syok," ujar Rosi saat ditemui di Puskesmas Kampung Laut, Kamis (30/7).
Bagi Rosi, pengalaman tersebut bukanlah yang pertama. Selama bertugas di Kampung Laut, ia telah dua kali membantu persalinan di atas kapal saat proses rujukan ke rumah sakit. "Semua kejadian itu terjadi di sekitar perairan Sapu Regel. Mungkin karena gelombangnya lebih besar sehingga kontraksi ibu hamil menjadi semakin kuat," tuturnya.
Meski ada rasa cemas, tapi Rosi harus tetap tenang menemani pasien-pasien rujukan semacam itu. “Hanya saja ada hal yang membuat pasien dan saya tenang yakni para pasien ini telah terlindungi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan begitu, secara mental lebih tenang karena tidak perlu lagi memikirkan biaya di RS,”ujarnya.
Kepala Puskesmas Kampung Laut dr Oktaryan Eko Arrianto mengatakan ambulans air menjadi nadi pelayanan kesehatan bagi masyarakat terpencil khususnya di Kampung Laut. “Sarana transportasi khusus ini disiagakan selama 24 jam untuk mengantar pasien rujukan dari Puskesmas Kampung Laut menuju rumah sakit di Kota Cilacap, terutama bagi kasus-kasus kegawatdaruratan. Dan, ambulans air dicover BPJS,”katanya.
Ia mengatakan sebagian besar pasien yang dirujuk menggunakan ambulans air merupakan ibu hamil dengan risiko tinggi, seperti mengalami tekanan darah tinggi menjelang persalinan. "Kasus rujukan yang paling sering adalah kebidanan. Kalau sudah masuk kondisi gawat darurat, tentu tidak bisa ditunda. Begitu pasien membutuhkan rujukan, tim langsung berangkat,"ujarnya.
Tak jarang proses rujukan dilakukan pada tengah malam hingga dini hari. Untuk setiap keberangkatan, ambulans air diawaki satu pengemudi kapal, serta tim medis yang terdiri perawat dan bidan.
Dengan ikut JKN, salah seorang ibu hamil berusia kandungan 8 bulan, Heriyani, 28, warga Desa Ujung Gagak, Kecamatan Kampung Laut juga mengaku tidak khawatir memikirkan biaya persalinan.
Ia rutin memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kampung Laut dengan menumpang perahu dari desanya. Perjalanan melintasi perairan Segara Anakan menuju puskesmas ditempuh kurang dari 30 menit. "Saya rutin periksa di sini naik perahu. Perjalanannya tidak sampai setengah jam melewati Segara Anakan," kata Heriyani.
Dia juga mengaku siap apabila nantinya harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Cilacap. Menurutnya, sebagai peserta JKN, ia tidak lagi dibayangi kekhawatiran mengenai biaya pengobatan maupun persalinan.
Layanan Ujung Negeri
Kepala Puskesmas Kampung Laut dr Oktaryan menambahkan puskesmas setempat menjadi tumpuan utama pelayanan kesehatan bagi sekitar 16 ribu penduduk di 4 desa di Kecamatan Kampung Laut. Pasalnya, puskesmas tersebut merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan di wilayah yang dikelilingi perairan Segara Anakan itu.

Layanan rawat jalan di Puskesmas Kampung Laut rata-rata mencapai 20-25 pasien per hari, bahkan pada waktu tertentu dapat meningkat hingga sekitar 40 pasien. Sementara itu, layanan rawat inap menangani sekitar 15-20 pasien setiap bulan.
Ia menyebutkan lebih dari 90 persen pasien yang berobat telah menjadi peserta JKN BPJS Kesehatan. Bahkan pada Kamis (30/7) BPJS Kesehatan hadir ke Kampung Laut dalam rangka
program Layanan di Ujung Negeri (Lanuri). “Kalau tidak ada Lanuri, mereka harus menyeberang ke Kota Cilacap untuk mengurus administrasi kepesertaan, seperti perubahan data atau perpindahan fasilitas kesehatan tingkat pertama. Perjalanan pulang pergi memakan waktu sekitar tiga jam dengan biaya transportasi sekitar Rp100 ribu per orang," ujarnya.
Sementara Sunar, 52, warga Desa Ujung Alang mengaku lega akhirnya berhasil mendaftarkan kepesertaan BPJS Kesehatan keluarganya setelah sebelumnya beberapa kali mengalami kendala. "Kalau ke Cilacap biayanya lebih besar. Harus naik perahu, beli bensin, bahkan kalau tidak punya motor harus menyewa. Pernah dua kali ke sana, tetapi belum berhasil," ujarnya.
Melalui pelayanan yang digelar langsung di kecamatan, Sunar akhirnya dapat mendaftarkan tiga anggota keluarganya dalam kepesertaan BPJS Kesehatan kelas III secara mandiri. Kini dia dan keluarganya memiliki jaminan kesehatan untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu membutuhkan pelayanan medis.
Petugas BPJS Kesehatan yang datang ke Kampung Laut, Randy, menjelaskan bahwa Lanuri bertujuan mendekatkan layanan administrasi JKN kepada masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas. BPJS Kesehatan memberikan berbagai layanan, mulai dari pendaftaran peserta baru, pendaftaran peserta mandiri, perubahan jenis kepesertaan, perpindahan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), hingga penyampaian informasi mengenai Program JKN. Pada pelaksanaan perdana di Kampung Laut, sekitar 40 warga memanfaatkan layanan tersebut.
"Banyak warga yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan maupun yang kepesertaannya sudah nonaktif. Antusiasme masyarakat cukup tinggi," ujarnya.

Kepala BPJS Kesehatan Kabupaten Cilacap Anif Saofika Pratama mengatakan Lanuri merupakan layanan jemput bola tersebut menjadi solusi bagi masyarakat Kampung Laut yang masih menghadapi keterbatasan akses internet sehingga belum dapat memanfaatkan layanan digital secara optimal.
"BPJS Kesehatan berkomitmen memberikan akses layanan yang mudah, inklusif, dan berkualitas bagi seluruh peserta JKN, termasuk masyarakat di wilayah 3T. Untuk Kampung Laut, karena keterbatasan akses internet, kami menghadirkan layanan melalui BPJS Kesehatan Keliling," ujar Anif.
Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat mengurus berbagai keperluan administrasi kepesertaan JKN tanpa harus datang ke kantor BPJS Kesehatan. Petugas secara langsung mendatangi lokasi sehingga pelayanan menjadi lebih mudah dijangkau oleh warga.
Anif menambahkan, hingga Juli 2026 cakupan kepesertaan JKN di Kabupaten Cilacap telah mencapai 96 persen. Dari total penduduk sebanyak 2.070.417 jiwa, sebanyak 1.988.319 jiwa telah terdaftar sebagai peserta JKN. "Tingkat keaktifan peserta JKN di Kabupaten Cilacap tercatat mencapai 65,04 persen. BPJS Kesehatan terus mendorong peningkatan keaktifan peserta agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan,"tambahnya. (H-2)
















































