China Menggila, Tetangganya Sedang di Ujung Tanduk Karena Ini

2 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

31 May 2026 17:15

Jakarta,CNBC Indonesia - Meningkatnya permintaan infrastruktur kecerdasan buatan di Amerika Serikat memberikan dorongan masif bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju di kawasan Asia Timur. Berdasarkan data ekonomi terbaru, output Taiwan mengalami pertumbuhan pada tingkat tahunan sebesar 14% yang didorong langsung oleh lonjakan penjualan chip dan server data center.

Selama setahun terakhir, produsen cip memori di Korea Selatan juga mencatatkan lonjakan laba operasi hingga melampaui 500%. Jepang turut merasakan dampak positif dari siklus ini meskipun telah lama kehilangan statusnya sebagai produsen cip utama dunia.

Pada tahun 2025, ketiga negara tersebut menikmati rekor ekspor tertinggi dan berhasil mencetak surplus transaksi berjalan yang solid. Namun, di balik rekor tersebut, terdapat dinamika struktural yang menunjukkan bahwa negara maju di Asia Timur sedang mengalami proses deindustrialisasi pada sektor manufaktur di luar teknologi tingkat tinggi.

Transformasi Rantai Pasok dan Ancaman Deindustrialisasi

Kompetisi yang semakin ketat dari Tiongkok telah mendisrupsi model ekonomi lama Asia Timur yang sebelumnya bertumpu pada diversifikasi manufaktur untuk menciptakan kemakmuran pada era 1980-an dan 1990-an.

Hubungan perdagangan Tiongkok dengan negara tetangganya telah mengalami transformasi fundamental. Tiongkok yang pada masa lalu hanya mengimpor komponen bernilai tinggi dan berfokus pada perakitan akhir, saat ini memiliki kapasitas penuh untuk bersaing di seluruh supply chain.

Kondisi makro ini menyebabkan perubahan drastis pada neraca perdagangan kawasan. Posisi surplus barang Taiwan dengan Tiongkok daratan yang berlangsung lama kini berbalik menjadi defisit. Korea Selatan telah mengalami hal serupa beberapa tahun lalu, meskipun ekspor chip belakangan ini kembali menopang surplus mereka.

Di Jepang, defisit perdagangan bilateral dengan Tiongkok terus menukik tajam dan menyentuh level rekor terdalam awal tahun ini. Berbagai sektor industri konvensional, mulai dari otomotif hingga bahan kimia, berada di bawah tekanan persaingan intens. Persepsi bahwa produsen domestik harus bersaing dengan barang produksi Tiongkok yang disubsidi pemerintah terus memicu sentimen proteksionisme.

Kerentanan Konsentrasi Ekspor Sektor Semikonduktor

Spesialisasi mendalam pada industri cip merupakan perkembangan yang mencerminkan tingkat kematangan ekonomi negara-negara tersebut. Akan tetapi, fokus yang sangat spesifik ini pada akhirnya menciptakan kerentanan struktural yang signifikan.

Siklus perangkat keras teknologi dikenal sangat volatil, dan fluktuasinya kini semakin memengaruhi stabilitas ekonomi kawasan secara keseluruhan. Rantai pasok teknologi ini memiliki ketergantungan mendalam terhadap Amerika Serikat dan Tiongkok, baik untuk pemenuhan input kritis maupun penyediaan basis permintaan pengguna akhir.

Berdasarkan indeks konsentrasi keranjang ekspor, kawasan Asia Timur saat ini berada 73% lebih tinggi dibandingkan rata-rata kelompok negara maju lainnya. Angka konsentrasi ini tercatat terus mengalami peningkatan secara konstan sejak tahun 2019.

Ketergantungan yang sangat terpusat ini secara praktis menempatkan Asia Timur dalam posisi yang rentan terhadap risiko kebijakan proteksionisme yang mungkin diterapkan oleh kedua negara adidaya tersebut.

Urgensi Reformasi Struktural dan Stimulus Domestik

Untuk mengatasi tantangan deindustrialisasi, kawasan Asia Timur tidak seharusnya merespons dengan melipatgandakan kebijakan industri yang agresif. Janji alokasi subsidi semikonduktor Korea Selatan senilai $530 miliar, atau investasi negara Jepang ke dalam 61 barang strategis, dinilai kurang relevan.

Intervensi pemerintah untuk mendorong ekspor memang berhasil ketika ekonomi mereka masih dalam fase mengejar ketertinggalan, namun strategi tersebut tidak lagi optimal untuk negara berpendapatan tinggi. Asia Timur perlu mereformasi sistem usang yang menekan konsumsi domestik.

Reformasi pasar tenaga kerja sangat diperlukan untuk mengakhiri ketimpangan upah dan meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Sistem pensiun juga harus diperbaiki, mengingat kawasan ini mencatatkan tingkat kemiskinan relatif lansia tertinggi di kelompok negara maju.

Pemerintah harus mengurangi rekayasa keuangan agar sumber daya mengalir efisien. Dukungan subsidi berlebihan bagi entitas mapan seperti TSMC dan Samsung Electronics idealnya dihentikan agar industri usang dapat melalui proses seleksi alam.

Dari sisi perdagangan luar negeri, hambatan lokal harus dipangkas dengan mengupayakan perjanjian perdagangan bebas bilateral antara Korea Selatan dan Jepang, atau mendorong masuknya Korea Selatan ke dalam pakta CPTPP.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |