Dari Lapak Mama-Mama, Negara Membaca Ekonomi Rakyat

1 week ago 2
Dari Lapak Mama-Mama, Negara Membaca Ekonomi Rakyat Yuli Bana, 50, menunggu pembeli di lapaknya di Pasar Kasih, Kelurahan Naikoten 1, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (27/7/2026). Pedagang di pasar tidak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga menjadi bagian dari denyut ekonomi daerah.(MI/Palce Amalo)

MINGGU (26/7) malam sekitar pukul 21.00 Wita, Yuliana Jun, 48, berjalan menuju pelataran Pasar Kasih di Kelurahan Naikoten 1, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak bungsunya, Iksan, 8, sudah tertidur di atas tikar lapaknya.

Di sana, pedagang perantara sibuk menurunkan sayur-mayur dan hasil bumi lainnya yang diangkut dengan mobil pikap dari berbagai desa di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan.

Pedagang eceran, termasuk Yuliana, menunggu proses pembongkaran selesai. Malam itu, dia membeli sawi putih, sawi manis, salada air, pakcoy, daun sereh, daun kemangi, dan kacang nasi dengan modal bervariasi mulai dari Rp30 ribu sampai Rp50 ribu, dengan total belanja sekitar Rp350 ribu.

Satu per satu sayuran dimasukkan ke dalam karung, lalu dia memanggulnya menuju lapaknya yang berjarak sekitar 250 meter dari lokasi pelataran pasar. 

Di sudut lapak, Iksan masih terlelap di atas tikar. Sepulang sekolah, Iksan hampir setiap hari menemani ibunya berjualan sampai larut malam. Yuliana menyimpan karung sayuran untuk dijual keesokan harinya lalu membangunkan anaknya. Mereka pulang ke rumah jelang pukul 23.00 Wita.

Setiap malam, ia menjalani rutinitas itu tanpa jeda. Keesokan paginya, setelah mengantar Iksan ke sekolah, dia kembali ke pasar, membuka lapak dan menata sayuran sambil menunggu pembeli.

Dari hasil penjualan keesokan harinya, Yuliana mengaku memperoleh keuntungan bersih rata-rata Rp100 ribu per hari. Dari keuntungan itu, ia masih harus membayar retribusi pasar sebesar Rp7.000 per hari, serta mencicil pinjaman modal di koperasi.

Namun, keuntungan sebesar itu tidak selalu diperoleh dengan mudah. Tidak semua sayuran habis terjual setiap hari. Sebagian menjadi layu dan akhirnya dijual kembali sebagai pakan ternak dengan harga lebih murah, tetapi kerugian dari satu jenis sayuran biasanya masih dapat ditutupi oleh keuntungan dari jenis sayuran yang lain.

"Saya pinjam modal Rp500 ribu dengan cicilan harian Rp25 ribu selama 28 hari. Kalau pinjam Rp1 juta, cicilan Rp50 ribu per hari," jelas perempuan asal Kabupaten Manggarai Timur tersebut.

Beberapa lorong dari lapak Yuliana, Yuli Bana, 50, sibuk menata barang dagangannya di meja kayu. Dia menjual jagung biji, kacang hijau, kunyit, kacang tanah, labu dan umbi-umbian. Barang dagangan itu didatangkan dari Pasar Tradisional Camplong, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. 

Dia sudah tiga tahun berjualan di lapaknya yang disewa bersama gudang untuk menyimpan stok barang dagangan sebesar Rp3.850.000 per tahun. 

"Pendapatan pedagang sangat bergantung pada pembeli. Kalau pada hari ramai, untung sekitar Rp400 ribu sampai Rp500 ribu, tetapi kadang untung cuma Rp200 ribu," kata perempuan asal Desa To'i, Kecamatan Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan tersebut. 

Yuliana dan Yuli hanyalah dua dari 325 pedagang yang setiap hari mencari nafkah di Pasar Kasih, pasar induk di Kota Kupang. Mayoritas adalah pelaku usaha mikro yang bertahan dengan modal sendiri atau pinjaman, membayar retribusi, menyewa lapak dan berharap barang dagangannya habis terjual setiap hari. 

Di balik aktivitas jual beli itu, uang berputar setiap hari, menghidupi keluarga pedagang sekaligus menjadi bagian dari denyut ekonomi Kota Kupang. Aktivitas usaha seperti itulah yang kini didata Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Ekonomi (SE) 2026 yang berlangsung sejak 15 Juni-31 Agustus 2026.

Proses Pendataan Usaha

Tahapan Sensus Ekonomi dimulai pada 1 Mei 2026 dengan pendataan perusahaan besar melalui metode pengisian mandiri secara daring. Selanjutnya, untuk usaha masyarakat, petugas melakukan wawancara secara langsung dengan mendatangi rumah maupun lokasi usaha.

Kepala BPS NTT Matamira B Kale mengatakan SE 2026 meliputi seluruh aktivitas usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, menengah sampai usaha besar. Pendataan dilakukan di tempat tinggal pemilik usaha untuk menghindari terjadinya pendataan ganda serta usaha yang terlewatkan. 

"Kalau usahanya tidak memiliki tempat tetap seperti pedagang keliling, kami mendatangi rumahnya. Dengan begitu, setiap usaha hanya didata satu kali," sebutnya.

Data SE 2016 memperlihatkan struktur usaha di NTT didominasi pelaku usaha mikro dan kecil. Dari 432.673 unit usaha yang tercatat, sebanyak 430.312 unit (99,45%) merupakan usaha mikro dan kecil. Sisanya, 2.362 unit (0,55%) merupakan usaha menengah dan besar.  

Bagi Matamira, dominasi usaha mikro dan kecil menggambarkan sebagian besar ekonomi NTT masih bertumpu pada usaha berskala kecil. Karena itu, hasil sensus ini menjadi salah satu pijakan pemerintah dalam menyusun kebijakan, mulai dari pengembangan UMKM, investasi, hingga program pemberdayaan masyarakat.

Ia pun mengajak masyarakat menerima kedatangan petugas sensus dan memberikan informasi yang benar agar hasil sensus benar-benar mencerminkan kondisi perekonomian di lapangan.

Denyut Ekonomi Kota

Saat malam kian larut, mobil pikap bergantian memasuki Pasar Kasih untuk membongkar hasil bumi. Sayur-mayur, umbi-umbian, rempah dan barang dagangan lainnya, kemudian berpindah ke lapak-lapak pedagang sebelum dibawa pulang pembeli.

Arus komoditas itu menjadikan Pasar Kasih sebagai salah satu simpul distribusi kebutuhan pangan bagi masyarakat Kota Kupang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Kota Kupang, Alfred Lakabela menyebutkan Kota Kupang tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangannya sendiri. Sebagai kota jasa, sebagian besar kebutuhan pokok berasal dari daerah lain di NTT. 

"Pasokan pangan dari daerah lain menjadi penopang utama perdagangan di kota ini," jelasnya.

Menurut Alfred, perdagangan di Kota Kupang hidup karena pasokan hasil bumi dari berbagai daerah terus mengalir tanpa putus. 

Data Deperindag Kota Kupang mencatat terdapat 5.957 industri kecil dan menengah (IKM) yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari pengolahan makanan, mebel, pertukangan hingga industri rumah tangga. Di luar itu, terdapat 2.005 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa.

Pada 2025, Pemerintah Kota Kupang menyalurkan bantuan kepada 95 IKM berupa kompresor angin, mesin serut kayu, dan mesin steam cuci motor. Sementara 133 UMKM menerima gerobak, cool box, meja portable, container booth, dan meja lipat untuk menunjang kegiatan usaha mereka.

Saat sebagian besar warga Kota Kupang terlelap, Yuliana kembali bersiap membeli sayuran untuk dagangan esok hari. Besok pagi, ia kembali menunggu pembeli, lalu malam harinya mengulang rutinitas yang sama.

Melalui SE 2026, keseharian Yuliana Jun dan ribuan pelaku usaha mikro yang selama ini berlangsung di lorong-lorong pasar kini menjadi bagian dari potret perekonomian Indonesia. Dari lapak sederhana mereka, negara membaca denyut ekonomi rakyat. (PO/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |