Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dirinya tidak mengerti mengapa nilai tukar rupiah melemah hari ini, Senin (16/3/2026), padahal kondisi ekonomi domestik secara fundamental baik-baik saja.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (16/3/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,30% ke level Rp16.985/US$. Pada sesi I, rupiah sempat melemah hingga menyentuh US$ 16.990 per dolar AS. Kondisi ini sekaligus memperpanjang tekanan terhadap rupiah sejak perdagangan terakhir pada pekan lalu.
"Saya gak tahu itu kenapa sama lemah. Anda harus tanyakan ke Bank Sentral kalau Rupiah. Anda tanya yang betul ke Bank Sentral apa yang terjadi," kata Purbaya, selepas Rakortas di Kemenko Perekonomian, Senin (16/3/2026).
"Kalau saya ngomong kan nanti bahaya. Intervensi kebijakan Bank Sentral. Saya gak ngerti itu. Jadi harus tanya ke Bank Sentral," lanjutnya.
Namun, dia menekankan ekonomi Indonesia secara fundamental tetap baik. Bahkan, dia mengklaim ekonomi Indonesia saat ini tengah lari kencang. Dengan demikian, seharusnya nilai tukar rupiah menguat.
"Kalau ekonominya lagi lari, lagi lari kenceng, makin kenceng. Harusnya fundamentalnya baik. Kalau nggak seperti normal, Rupiah harusnya menguat," tegasnya.
(haa/haa)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































