Free Fire dan Titik Balik Perjalanan Fajri TV di Dunia Kreator Konten Gaming

4 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesatnya perkembangan industri digital kini membuka ruang bagi anak muda untuk unjuk kreativitas lewat media sosial. Peluang inilah yang ditangkap oleh Khairul Fajri atau yang lebih dikenal sebagai Fajri Tv, kreator konten gaming asal Bukittinggi, Sumatra Barat, yang membuktikan potensinya di ranah ini.

Nama Fajri dikenal luas di kalangan pemain Free Fire. Melalui konten-konten gameplay, tips bermain, hingga hiburan seputar gim battle royale besutan Garena tersebut, ia membangun komunitas yang besar di berbagai platform media sosial. Akun TikTok @khrulfajri kini memiliki lebih dari 1,1 juta followers, akun Instagram @khrulfajri diikuti sekitar 45 ribu pengikut, sementara kanal YouTube Fajritvff telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu subscribers.

Namun, pencapaian tersebut tidak datang secara instan. Di balik jutaan penonton dan ratusan ribu pengikut yang dimilikinya saat ini, ada kisah perjuangan panjang yang penuh tantangan. Bahkan sebelum dikenal sebagai kreator gaming, Fajri pernah menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup.

Lahir di Sei Cubadak pada 11 Oktober 2002, Fajri tumbuh sebagai sosok yang menyukai dunia gim sejak usia muda. Meski memiliki hobi bermain game, ia tidak pernah membayangkan bahwa aktivitas tersebut suatu hari nanti akan menjadi jalan hidupnya.

Setelah beranjak dewasa, Fajri memutuskan merantau ke Batam, Kepulauan Riau, untuk mencari pekerjaan. Saat itu, tujuan utamanya sederhana, yaitu mendapatkan penghasilan tetap agar bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, tak lama setelah merantau, pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Kondisi tersebut membuat hampir seluruh sektor industri mengalami perlambatan. Banyak perusahaan melakukan pengurangan karyawan sehingga mencari pekerjaan menjadi tantangan yang sangat berat.

Selama hampir empat bulan, Fajri harus berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mencari lowongan pekerjaan. Berkali-kali mengikuti proses seleksi, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.

“Di masa itu mencari pekerjaan benar-benar sulit. Hampir semua perusahaan mengurangi jumlah karyawan. Saya hanya berpikir bagaimana caranya tetap bisa bertahan,” ujar Fajri dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Kamis (2/7/2026).

Kesempatan akhirnya datang ketika sebuah perusahaan yang memproduksi mesin es menerima dirinya sebagai operator produksi. Sayangnya, pekerjaan tersebut hanya bertahan sekitar enam bulan. Kondisi pandemi yang belum membaik membuat perusahaan kembali melakukan pengurangan tenaga kerja.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |