Hamas.(Al Jazeera)
KELOMPOK Hamas dan faksi militan lain Palestina dilaporkan menyepakati rencana strategis yang akan mengakhiri kekuasaan mereka di Jalur Gaza. Berdasarkan keterangan pejabat Amerika Serikat (AS) pada Kamis (30/7) malam waktu setempat, kesepakatan ini mencakup pelucutan senjata kelompok bersenjata dengan syarat Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah kantong tersebut.
Kesepakatan itu menandai dimulai proses multitahap yang tidak terbatas untuk mengakhiri pemerintahan Hamas dan memulai pembangunan kembali Gaza. Meski demikian, para pejabat mengakui ada tantangan besar, terutama dalam memverifikasi kepatuhan kelompok Palestina dan memastikan pemerintah Israel tidak menggagalkan kemajuan yang ada.
Pengumuman itu merupakan puncak dari diplomasi berbulan-bulan yang melibatkan AS, Israel, Hamas, dan mediator Timur Tengah, serta Board of Peace yang dibentuk oleh Presiden Donald Trump untuk mengawasi transisi di Gaza.
"Yang tertulis dalam perjanjian itu penting. Namun yang terjadi selanjutnya jauh lebih penting. Implementasi dan verifikasi harus nyata," tegas Nickolay Mladenov, Ketua Board of Peace, melalui pernyataan di media sosial.
Presiden Trump menyatakan optimisme tinggi terkait perkembangan ini. Melalui unggahannya, Trump menyebut kesepakatan ini sebagai langkah bersejarah menuju pelucutan senjata lengkap di Gaza dan pencapaian keamanan yang langgeng.
Perbedaan Interpretasi Pelucutan Senjata
Meskipun AS menyebut ada kesepakatan pelucutan senjata, pihak Hamas memberikan catatan khusus. Ghazi Hamad, anggota tim negosiasi Hamas, menjelaskan kepada The Wall Street Journal bahwa pihaknya setuju untuk menempatkan senjata di fasilitas penyimpanan yang diawasi oleh Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, kelompok teknokrat Palestina yang ditugaskan mengelola transisi politik dan keamanan.
"Kami tidak mengatakan pelucutan senjata (disarmament), kami tidak mengatakan menyerahkan senjata, dan kami tidak menyetujui keterlibatan Israel," ujar Hamad. Ia menekankan bahwa rencana ini sangat bergantung pada penghentian operasi militer Israel dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Di sisi lain, Mesir sebagai tuan rumah perundingan tidak secara eksplisit menyebutkan terminologi pelucutan senjata dalam pernyataan resminya. Kairo hanya mencatat ada kesepakatan terhadap peta jalan dan rencana pertemuan lanjutan untuk membahas mekanisme implementasi.
Peta Jalan 15 Poin
Rencana transisi ini didasarkan pada peta jalan 15 poin yang merupakan turunan dari kesepakatan damai Gaza yang didukung PBB pada Oktober lalu. Beberapa tahapan krusial dalam proses ini meliputi:
- Persetujuan kerangka kerja transisi.
- Pelepasan keterlibatan pemerintah Hamas dalam otoritas sipil.
- Transfer senjata dari kepolisian Gaza ke entitas keamanan baru.
- Dekomisioning senjata berat dan depot senjata.
- Identifikasi dan penghancuran jaringan terowongan bawah tanah.
Hamas juga diharapkan menyerahkan peta terowongan serta lokasi pabrik senjata mereka. Kekuasaan sipil nanti akan diserahkan sepenuhnya kepada komite nasional teknokrat.
Hingga saat ini, pihak Israel belum memberikan komentar resmi dan belum menyetujui kesepakatan tersebut secara penuh. Tim negosiasi Israel dilaporkan masih berada di Mesir untuk membahas fase kedua perjanjian dengan para mediator. Perundingan dijadwalkan berlanjut pada Jumat waktu setempat. (I-2)
















































