Ilustrasi - Hamas.(Anadolu)
PEJABAT senior Hamas, Ghazi Hamad, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengambil langkah apa pun terkait pelucutan senjata sebelum pasukan Israel sepenuhnya mundur dari Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan Hamad pada Jumat, merespons dinamika kesepakatan yang tengah berlangsung.
Hamad, yang merupakan anggota delegasi negosiasi Hamas, menjelaskan bahwa isu pelucutan senjata memiliki keterkaitan erat dengan dua syarat utama: penarikan total pasukan Israel dari wilayah Gaza dan dimulainya proses rekonstruksi besar-besaran di wilayah tersebut. Dalam wawancaranya dengan saluran Al Jazeera, ia menekankan bahwa Israel tidak akan memiliki peran dalam proses pelucutan senjata tersebut.
Menurut Hamad, mekanisme pelucutan senjata nantinya akan dikelola secara mandiri oleh sebuah badan nasional Palestina. Ia menegaskan kembali posisi Hamas bahwa tidak akan ada langkah deeskalasi persenjataan kecuali Israel terlebih dahulu memenuhi seluruh kewajiban yang tertuang dalam kesepakatan yang telah dicapai.
Negosiasi yang Sulit dan Berat
Hamad menggambarkan proses perundingan yang sedang berjalan sebagai proses yang "sulit dan berat". Meski demikian, ia menyatakan bahwa Hamas tetap berkomitmen untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan berupaya memperoleh hasil terbaik dari meja perundingan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Mesir, Qatar, dan Turki atas peran mediasi mereka dalam memfasilitasi kesepakatan ini.
Pernyataan dari pihak Hamas ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan tercapainya kesepakatan mengenai pelucutan senjata secara menyeluruh terhadap Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Dalam rencana tersebut, penarikan pasukan Israel dijadwalkan dilakukan secara bertahap.
Rencana 20 Poin dan Pasukan Internasional
Presiden Trump menyebut kesepakatan ini sebagai "terobosan bersejarah" yang dimediasi melalui rencana 20 poin untuk Gaza di bawah pengawasan Dewan Perdamaian. Implementasi kesepakatan ini direncanakan melibatkan Pasukan Stabilisasi Internasional yang akan bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru untuk menjaga keamanan di wilayah kantong tersebut.
Namun, situasi di lapangan tetap tegang. Meskipun gencatan senjata secara resmi mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, laporan menunjukkan bahwa serangan masih terus terjadi. Sejak tanggal tersebut, serangan harian dilaporkan telah menewaskan 1.214 warga Palestina dan melukai 3.977 lainnya, yang mayoritas merupakan perempuan dan anak-anak. (Anadolu/Ant/I-1)
Konteks Konflik:
Perang di Gaza telah menyebabkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Data menunjukkan lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan 174.000 lainnya luka-luka. Selain itu, sekitar 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza dilaporkan telah hancur akibat eskalasi konflik tersebut.
















































