Harga Biji Kakao di Aceh Tembus Rp70 Ribu per Kg, Petani Raup Untung Besar

4 hours ago 4
Harga Biji Kakao di Aceh Tembus Rp70 Ribu per Kg, Petani Raup Untung Besar Petani kakao di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh, sedang memanen buah kakao.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

MESKI fenomena alam El Nino mulai membayangi wilayah Provinsi Aceh, para petani kakao di kawasan setempat tetap bisa tersenyum lebar. Hal ini disebabkan oleh harga gabah biji kakao kering di provinsi paling barat Sumatra tersebut yang kini sangat menjanjikan.

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia di Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie, harga gabah biji kakao kering dengan kualitas bagus saat ini mencapai Rp70.000 per kilogram (kg). Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan awal Mei 2026 yang hanya berada di kisaran Rp50.000 per kg.

Kenaikan luar biasa juga terjadi pada biji kakao kualitas standar. Dari harga Rp45.000 per kg pada awal Mei lalu, kini merangkak naik menjadi Rp68.000 per kg.

"Petani riang gembira menyambutnya. Mereka semakin rajin pergi ke kebun. Ini merupakan harga tertinggi sejak awal tahun 2025," ujar Husaini MY, pengusaha penampung biji kakao di Kabupaten Bireuen, Minggu (5/7).

Permintaan Dunia dan Faktor Kurs Dolar

Husaini menjelaskan bahwa tingginya harga bahan baku cokelat dan kosmetik ini didorong oleh meningkatnya permintaan pasar global. Saat ini, biji kakao menjadi bahan baku utama untuk berbagai produk makanan kelas atas di dunia.

Selain faktor permintaan, kenaikan harga kakao domestik berkaitan erat dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang hampir menyentuh angka Rp18.000. Karena mekanisme ekspor kakao menggunakan acuan harga internasional dalam mata uang dolar, nilai jual di tingkat petani pun terkerek naik.

"Di satu sisi, petani kakao dalam negeri diuntungkan ketika kurs dolar tinggi. Hasil produksi panen mereka menjadi jauh lebih mahal saat dikonversi ke rupiah," tambah Husaini yang juga merupakan pengurus Forum Kakao Aceh.

Kondisi harga yang menggiurkan ini memicu semangat petani untuk lebih giat merawat lahan mereka, termasuk membersihkan kebun meski saat ini sedang memasuki masa akhir musim panen antara (di luar panen utama).

Potensi Kakao Aceh

Pelaksana Harian Ketua Forum Kakao Kabupaten Pidie, Muhammad Nasir, menyebutkan bahwa harga di tingkat pengumpul saat ini berkisar antara Rp68.000 hingga Rp70.000. "Jika di tingkat pasar domestik atau industri besar, harganya mungkin bisa lebih tinggi lagi," ungkapnya.

Catatan Produksi: Aceh merupakan salah satu lumbung kakao terbesar di Indonesia. Pada tahun 2025, provinsi ini mampu menyumbangkan produksi sebesar 36,6 ribu ton. Lonjakan harga ini diharapkan menjadi motivasi bagi petani untuk memperluas lahan dan menerapkan teknologi pengelolaan terkini guna meningkatkan produktivitas.

Kenaikan harga ini menjadi angin segar bagi sektor perkebunan Aceh di tengah tantangan iklim, sekaligus memperkuat posisi kakao sebagai komoditas unggulan daerah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. (I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |