Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia bergerak penuh volatilitas selama pekan ini dan mencapai level di atas US$100 per barel. Posisi yang terakhir kali disentuh saat awal Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 silam.
Kali ini, harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level US$100 per barel setelah pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat konflik Iran yang membuat Selat Hormuz, jalur distribusi minyak utama dunia, masih ditutup.
Berdasarkan data Refinitiv harga minyak acuan Brent tercatat di US$103,14 per barel atau menguat 2,67% dari perdagangan hari sebelumnya. Sementara harga minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$98,71 per barel atau menguat 3,11%. Sementara secara mingguan kinerja acuan harga minyak mentah Brent dan WTI masing-masing melonjak 11,27% dan 8,59%.
Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2026) harga minyak mentah acuan Brent dan WTI melesat hingga mencapai level tertinggi dalam perdagangan harian di US$119,50 per barel dan US$119,48 per barel. Meskipun pada akhir perdagangan ditutup lebih rendah, masing-masing di US$98,96 per barel (+6,76%) dan US$94,77 per barel (+4,26%).
Kenaikan harga pada hari itu dipicu oleh pemangkasan produksi oleh sejumlah produsen besar di Timur Tengah, di tengah masih tertutupnya Selat Hormuz-jalur vital pengiriman energi dunia.
Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, pada Sabtu mengumumkan pemotongan produksi minyak dan output kilang sebagai langkah pencegahan menyusul ancaman Iran terhadap keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz. Namun, Kuwait Petroleum Corporation tidak merinci besaran pengurangan produksi tersebut.
Sementara itu, produksi minyak di Irak dilaporkan anjlok tajam. Tiga pejabat industri mengatakan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan Irak turun sekitar 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari (bph).
Sebelum perang dengan Iran pecah, ladang-ladang tersebut memproduksi sekitar 4,3 juta bph. Mengutip CNBC.com, Sabtu (14/3/2026), di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) juga menyatakan tengah mengelola produksi minyak lepas pantai secara hati-hati untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan. Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyebut operasi produksi darat masih berjalan normal.
Negara-negara Teluk memang mulai mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan semakin terbatas. Penutupan Selat Hormuz membuat banyak kapal tanker enggan melintas karena khawatir diserang Iran. Padahal, sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya diekspor melalui jalur sempit tersebut.
Di tengah ketegangan yang masih berlangsung, pemerintah Amerika Serikat optimistis jalur pelayaran di Selat Hormuz akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal tanker diperkirakan akan kembali normal setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berhasil dilemahkan.
"Kita tidak terlalu lama lagi sebelum melihat arus kapal mulai kembali lebih normal melalui Selat Hormuz," kata Wright dalam wawancara dengan CNN.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi saat ini masih jauh dari normal.
"Lalu lintas saat ini masih jauh dari kondisi normal. Itu akan membutuhkan waktu. Namun dalam skenario terburuk, ini hanya akan memakan waktu beberapa minggu, bukan berbulan-bulan," ujarnya.
Meskipun pada awal perdagangan pekan ini harga minyak mentah mendidih, pergerakannya sepanjang pekan sejatinya penuh dengan volatilitas. Pada perdagangan Selasa (10/3/2026) harga acuan minyak mentah pun sempat mendingin.
Pada perdagangan Selasa (10/3/2026) menurut catatan Refinitv harga minyak mentah acuan Brent tercatat di US$87,8 per barel atau turun 11,28% dari hari sebelumnya. Sementara harga minyak mentah acuan WTI anjlok 11,94% menjadi US$83,45 per barel pada penutupan perdagangan hari itu.
Pelemahan ini diakibatkan setelah muncul sinyal bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mereda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan perang dengan Iran dapat berakhir lebih cepat dari perkiraan. Pernyataan tersebut memicu aksi ambil untung besar-besaran sehingga harga minyak anjlok lebih dari 11% dalam sehari, penurunan terdalam sejak 2022.
Di tengah volatilitas tersebut, pasar dikejutkan laporan dari Wall Street Journal. Melansir Reuters, International Energy Agency (IEA) dikabarkan tengah mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah organisasi tersebut untuk menutup potensi gangguan pasokan akibat perang Iran.
Jika rencana itu benar-benar dijalankan, volumenya bahkan bisa melampaui 182 juta barel yang pernah dilepas negara-negara anggota IEA pada 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.
Langkah tersebut sedang dibahas para pemimpin negara maju. Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan menggelar pertemuan virtual dengan para pemimpin G7 pada Rabu guna membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar energi dan kemungkinan penggunaan cadangan darurat untuk meredam gejolak harga.
Namun, sentimen pendingin harga minyak mentah acuan tersebut tidak bertahan lama. Harga minyak mentah kemudian tetap melaju pada tiga hari perdagangan berikutnya dan ditutup di atas US$100 per barel pada perdagangan Jumat pekan ini.
Penguatan tersebut karena situasi kembali memanas ketika konflik militer di kawasan Teluk memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak dunia.
Melansir dari Reuters pada Sabtu (14/3/2026), Iran meningkatkan serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah. Dua kapal tanker dilaporkan terbakar di perairan Irak setelah dihantam kapal bermuatan bahan peledak yang diduga dikendalikan Iran. Serangan tersebut memicu kebakaran besar di laut dekat Basra dan menghentikan operasi sejumlah pelabuhan minyak.
Ketegangan ini juga merambat ke Selat Hormuz, jalur vital energi global yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Melansir dari Reuters, hingga kini belum ada kepastian bahwa kapal dapat berlayar dengan aman melalui jalur tersebut. Situasi semakin rumit setelah muncul laporan bahwa Iran menempatkan ranjau laut di perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Di tengah eskalasi tersebut, pejabat militer Iran bahkan memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel. Pernyataan ini muncul setelah negara tersebut meningkatkan serangan terhadap kapal dagang dan fasilitas energi regional, yang menurut mereka merupakan respons terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(ras/ras)
Addsource on Google

3 hours ago
2

















































