Harga cabai, ayam, beras, hingga ikan tongkol naik di Batam dan mulai dikeluhkan warga.(MI/HENDRI KREMER)
Sejumlah komoditas pangan di Kota Batam mengalami kenaikan harga yang signifikan dan menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat mencapai 4,75 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,91.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor penggerak inflasi dengan kenaikan sebesar 6,60 persen. Dalam kelompok ini, cabai merah memberikan andil terbesar terhadap inflasi yakni 0,20 persen, disusul daging ayam ras sebesar 0,19 persen, dan beras sebesar 0,16 persen.
Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi di antaranya:
- Cabai rawit: 0,09 persen
- Daging sapi, bayam, dan tulang sapi: masing-masing 0,08 persen
- Jeruk, tomat, dan ikan tongkol: masing-masing 0,06 persen
Kenaikan harga ini terpantau di sejumlah pasar tradisional utama seperti Pasar Fanindo, Pasar Mitra Raya, Pasar Tos 3000, Pasar Aviari, dan Pasar Mega Legenda. Para pedagang mengaku terpaksa menyesuaikan harga jual mengikuti kenaikan harga dari pihak pemasok.
Wahyu (45), seorang pedagang di Pasar Tos 3000, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga cabai merah dan cabai rawit sangat sering terjadi. "Kalau harga dari pemasok naik, kami juga ikut naikkan harga. Pembeli sekarang banyak yang mengurangi jumlah belanja, biasanya beli setengah kilogram sekarang hanya seperempat kilogram," ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Kondisi serupa dialami Udin (55), pedagang ayam di Pasar Fanindo. Ia menyebut kenaikan harga daging ayam ras berdampak langsung pada daya beli. Meski pembeli tetap ada, volume pembelian menurun drastis karena warga mulai beralih ke lauk pauk yang lebih ekonomis.
Di sisi konsumen, warga Batam mulai memperketat pengaturan pengeluaran rumah tangga. Yanti (32), salah seorang warga, mengaku harus lebih cermat dalam berbelanja kebutuhan dapur agar tetap mencukupi kebutuhan harian di tengah kenaikan harga beras dan ikan.
Kenaikan harga pangan ini dinilai membebani ekonomi rumah tangga karena melibatkan komoditas pokok. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah strategis, mulai dari pemantauan ketersediaan stok hingga memperlancar jalur distribusi guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di Batam.








































