Hari Antiperdagangan Orang Sedunia 2026: IOM Ungkap Ancaman Nyata Online Scam di Asia Tenggara

2 weeks ago 13
 IOM Ungkap Ancaman Nyata Online Scam di Asia Tenggara Ilustrasi perdagangan manusia.(Dok. Magnific)

PERINGATAN Hari Antiperdagangan Orang Sedunia (World Day Against Trafficking in Persons) pada 30 Juli 2026 menjadi momentum krusial bagi komunitas internasional untuk memperkuat perlindungan terhadap kelompok rentan. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) terus menekankan pentingnya memastikan martabat, keselamatan, dan perlindungan bagi individu di tengah krisis global yang semakin kompleks.

Krisis Online Scam di Asia Tenggara

Salah satu tantangan paling mendesak yang disoroti dalam konteks perlindungan manusia saat ini adalah maraknya pusat penipuan daring (online scam) di kawasan Asia, khususnya di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan PBB, puluhan ribu orang diduga telah diperdagangkan dan dipaksa bekerja di pusat-pusat operasional online scam yang tersebar di beberapa negara, termasuk Kamboja.

Para korban sering kali terjebak melalui tawaran pekerjaan palsu yang menjanjikan gaji tinggi. Namun, setibanya di lokasi, mereka justru disekap di kompleks-kompleks tertutup dan dipaksa melakukan penipuan siber terhadap target di seluruh dunia. Amnesty International mencatat bahwa kompleks-kompleks ini beroperasi dengan pengawasan ketat, di mana para pekerja migran mengalami eksploitasi berat dan pelanggaran hak asasi manusia.

Dalam pernyataannya pada Selasa, 28 Juli 2026, IOM mengatakan pusat-pusat penipuan daring berskala besar di Myanmar, Kamboja, dan Laos mempekerjakan hingga sekitar 300.000 orang untuk menjalankan berbagai skema penipuan terhadap korban, yang sebagian besar menyasar warga lanjut usia di negara-negara Barat. Sebagian besar pekerja di kompleks tersebut juga merupakan korban perdagangan manusia. Mereka direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu yang menawarkan gaji tinggi bagi pelamar yang memiliki kemampuan bahasa Inggris dan latar belakang pendidikan tinggi.

Peran IOM dalam Perlindungan Korban

Menanggapi situasi ini, IOM berfokus pada kepemimpinan kemanusiaan dan koordinasi untuk membantu masyarakat yang terdampak atau berisiko mengalami perpindahan paksa. Faktor-faktor seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, konflik, dan ketidakstabilan politik diidentifikasi sebagai pemicu utama yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap sindikat perdagangan orang.

Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan banyak korban mengalami trauma, beban utang, stigma sosial, hingga kekerasan seksual atau kurungan isolasi.

"Orang-orang yang terjebak di kompleks penipuan adalah korban perdagangan manusia yang dipaksa melakukan kejahatan melalui kekerasan, ancaman, dan pemaksaan," kata Pope, dilansir dari AsiaOne, Rabu, 29 Juli 2026.

"Kita harus bekerja sama untuk mendukung para penyintas, menghentikan para pelaku perdagangan manusia, dan menutup celah yang dimanfaatkan jaringan kriminal ini," tambahnya.

Urgensi Aksi Global

PBB menegaskan bahwa fenomena perdagangan orang ke pusat online scam bukan sekadar masalah kriminalitas biasa, melainkan krisis kemanusiaan yang memerlukan respons lintas batas. Penegakan hukum yang tegas di negara-negara terdampak, dibarengi dengan kampanye kesadaran publik mengenai modus penipuan kerja di luar negeri, menjadi kunci untuk menekan angka korban di masa depan.

Melalui peringatan tahun 2026 ini, dunia diingatkan kembali bahwa perlindungan terhadap martabat manusia harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan migrasi dan keamanan internasional. (IOM/Metrotvnews/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |