Jakarta, CNBC Indonesia - Harga tiket pesawat yang mencapai Rp16 juta hingga Rp17 juta sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Pemerintah menyebut lonjakan harga tersebut bukan disebabkan kenaikan tarif resmi maskapai, melainkan karena rute perjalanan yang tidak langsung dan melibatkan beberapa kali transit.
Kementerian Perhubungan menjelaskan fenomena ini banyak muncul di platform pemesanan tiket daring atau online travel agent (OTA). Ketika penerbangan langsung sudah habis, sistem akan menampilkan alternatif perjalanan dengan rute yang lebih panjang sehingga harga tiket terlihat jauh lebih mahal.
Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agustinus Budi Hartono mengatakan persepsi mahalnya tiket pesawat sering muncul karena masyarakat tidak melihat detail rute yang ditawarkan.
"Kalau kita lihat di media sosial seolah-olah harga tiket sangat tinggi. Padahal setelah diperhatikan, rute yang ditawarkan oleh online travel agent itu ternyata rute dengan beberapa transit karena rute langsungnya sudah habis," ujar Agustinus dalam jumpa pers Kemenpar soal Isu Harga Tiket Pesawat, Selasa (17/3/2026).
Ia mencontohkan salah satu temuan tiket penerbangan dari wilayah timur Indonesia menuju Sumatera yang sempat viral karena dijual dengan harga belasan juta rupiah.
"Contohnya ada tiket dari Timika ke Padang atau dari Manokwari ke Padang yang harganya hampir Rp16 juta sampai Rp17 juta," ujar Agustinus.
Foto: Muhammad Sabki
Sejumlah pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di pelataran pesawat Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (4/1/2018)
Harga tersebut muncul karena sistem penjualan tiket menawarkan rute perjalanan yang tidak langsung sehingga jarak tempuh menjadi lebih panjang dan tarif meningkat. Padahal jika menggunakan rute normal dengan satu kali transit di kota besar, harga tiket seharusnya tidak setinggi itu.
"Padahal kalau kita hitung sebenarnya juga seharusnya tidak akan lebih dari sekitar Rp8 juta atau Rp9 juta," ujarnya.
Beberapa rute domestik di Indonesia memang tidak memiliki penerbangan langsung sehingga penumpang harus transit terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke kota tujuan.
Namun ketika sistem OTA menawarkan rute dengan lebih dari satu kali transit, biaya perjalanan akan otomatis meningkat karena setiap segmen penerbangan memiliki tarif masing-masing.
"Yang terjadi ternyata transitnya lebih dari satu kali dan akhirnya mengakibatkan harga tiketnya cukup membengkak," kata Agustinus.
Kementerian Perhubungan pun meminta platform penjualan tiket agar lebih transparan dalam menampilkan ketersediaan kursi penerbangan agar tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat.
Ia meminta jika penerbangan langsung sudah habis, sebaiknya platform penjualan tiket menyampaikan informasi tersebut secara jelas kepada calon penumpang. Langkah tersebut penting agar masyarakat tidak salah memahami kondisi harga tiket pesawat, terutama pada periode permintaan tinggi seperti musim mudik dan libur panjang.
"Kalau memang harga tiketnya sudah tidak ada atau kursinya sudah habis, mungkin lebih baik disampaikan saja bahwa tiketnya tidak tersedia," ujar Agustinus.
(fys/wur)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































