Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal ke wilayah Israel. Mereka menyebut kiriman rudal ini sebagai serangan pertama mereka sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Klaim tersebut disampaikan oleh juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi satelit Al-Masirah pada Sabtu (28/3/2026).
Dilansir dari Al Jazeera, dalam pernyataannya, Saree menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut hingga tujuan yang telah diumumkan sebelumnya tercapai.
"Serangan akan terus berlanjut hingga tujuan yang telah diumumkan tercapai, sebagaimana disebutkan dalam pernyataan sebelumnya oleh Angkatan Bersenjata, dan sampai agresi terhadap seluruh front perlawanan dihentikan," ujarnya.
Militer Israel menyatakan bahwa rudal yang ditembakkan tersebut berhasil dicegat. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Saree memberi sinyal dalam pernyataan yang masih bersifat samar pada Jumat bahwa kelompok Houthi akan ikut terlibat dalam konflik yang telah mengguncang kawasan dan memicu gejolak ekonomi global.
Saree juga menyebut bahwa kelompoknya telah meluncurkan rentetan rudal balistik yang menargetkan apa yang ia sebut sebagai "lokasi militer sensitif Israel" di wilayah selatan negara tersebut.
Sirene peringatan dilaporkan berbunyi di sekitar Beer Sheba dan area dekat pusat penelitian nuklir utama Israel untuk ketiga kalinya sepanjang Jumat malam hingga Sabtu pagi, seiring dengan serangan yang juga dilancarkan oleh Iran dan Hizbullah terhadap Israel.
Kelompok Houthi telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, sejak 2014 dan sebelumnya belum terlibat langsung dalam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Namun, dalam konflik sebelumnya yakni perang Israel-Hamas, kelompok ini aktif menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah, jalur vital perdagangan global yang dilalui sekitar 1 triliun dolar AS barang setiap tahunnya.
Dalam periode November 2023 hingga Januari 2025, Houthi tercatat telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang menggunakan rudal dan drone. Serangan tersebut menyebabkan dua kapal tenggelam dan menewaskan empat pelaut, serta mengganggu arus perdagangan internasional secara signifikan.
Pada 2024, pemerintahan Donald Trump sempat melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi. Operasi militer tersebut berlangsung selama beberapa pekan sebelum akhirnya dihentikan.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































