Jakarta, CNN Indonesia --
Harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang melambung tinggi di pasar gelap di New Delhi, India telah mendorong warga miskin kembali menggunakan kayu dan batu bara untuk memasak.
India adalah pembeli LPG terbesar kedua di dunia yang sebagian besar bersumber dari Timur Tengah, area yang sedang panas karena perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Pasokan LPG kini tersendat buntut blokade Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perdana Menteri India Narendra Modi telah mendesak negara-negara bagian mengekang pasar gelap dan menghindari kepanikan, menekankan bahwa pasokan energi India tetap stabil.
Sheela Kumari, pekerja rumah tangga berusia 36 tahun di lingkungan berpenghasilan rendah Madanpur Khadar mengatakan bahwa ia terpaksa meninggalkan tabung gas LPG untuk memasak setelah harganya naik lebih dari dua kali lipat.
"Dulu kami membeli tabung gas seharga 1.800-2.000 rupee (Rp324 ribu-Rp360 ribu, kurs Rp180), tetapi sekarang di pasar gelap harganya naik menjadi 5.000 rupee (Rp900 ribu)," katanya kepada AFP.
Harga tabunga gas LPG saat ini hampir sama dengan seluruh gaji bulanan Kumari sebesar 6.000 rupee (Rp1,08 juta).
"Ini tak terbayangkan bagi kami," katanya.
"Pilihan terbaik bagi kami adalah kembali menggunakan kayu dan batu bara," tutur dia lagi.
Kumari mengatakan satu tabung gas LPG 14 kilogram hanya bertahan 15-20 hari untuk keluarganya yang berjumlah enam orang, bahkan ketika sudah dihemat penggunaannya.
Namun, katanya, satu ikat kayu bakar 10 kilogram, yang bertahan beberapa hari, harganya cuma 30 rupee (Rp5.400).
"Ada dampak kesehatan, dan anak-anak saya batuk," ujar Kumari.
Tetangga Kumari, Munni Bai, yang berusia 45 tahun dan menderita asma, telah beralih menggunakan kompor listrik serta biogas dari kotoran sapi untuk membantu pernapasannya. Namun kini ia mengatakan terpaksa kembali menggunakan bahan bakar alternatif.
"Gas terlalu mahal," katanya.
"Kami tidak bisa bergantung pada itu, kami beralih dari batu bara dan kayu karena masalah kesehatan saya, tetapi sekarang sulit untuk bertahan," ucap Bai.
Kesulitan mendapatkan tabung gas LPG menurut para aktivis bukan cuma soal harga tetapi juga berkaitan dengan akses.
Banyak pekerja migran dikatakan tidak memiliki dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan LPG bersubsidi dan bergantung pada pasar informal, di mana penimbunan telah mendorong kenaikan harga.
"Belum ada kekurangan besar, tetapi penimbunan telah meningkat," kata Deepak dari Pusat Advokasi dan Penelitian (CFAR).
"Banyak migran bergantung pada tabung gas pasar gelap, dan harganya telah naik dua hingga tiga kali lipat," ujar Deepak.
New Delhi, dan wilayah metropolitannya yang luas dengan 30 juta penduduk, secara teratur masuk dalam peringkat ibu kota paling tercemar di dunia, karena campuran mematikan dari emisi pembangkit listrik, lalu lintas padat, serta pembakaran sampah dan tanaman.
Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah India telah mendorong skema energi bersih "Ujjwala" atau "cahaya", untuk menyediakan lebih dari 100 juta sambungan LPG kepada rumah tangga miskin.
Membakar kayu, batu bara, dan biomassa di dalam ruangan membuat keluarga terpapar asap dan partikel beracun dalam jumlah tinggi, meningkatkan risiko penyakit pernapasan.
(fea)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
3

















































